![]() |
| Ilustrasi Tentara Melawan Terorisme. pict pexels.com |
Terorisme mulai menjadi teror global pasca peristiwa World Trade Center di New York Amerika Serikat pada tanggal 11 September. Serangan terhadap simbol utama Amerika ini kemudian mengawali berbagai teror lanjutan di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia. Sentimen terhadap kelompok tertentu, dalam hal ini kelompok islam radikal membuat isu terorisme semakin mudah meledak. Perseteruan Amerika dengan Al Qaeda sedikit banyak membuka pintu bagi tumbuhnya gerakan yang lebih radikal.
Amerika Serikat mengklaim bahwa serangan 11/9 merupakan aksi Al-Qaeda. Al-Qaeda sendiri merupakan organisasi kriminal yang diperkirakan merupakan organisasi yang berpusat di Afghanistan. Beberapa isu mengatakan bahwa Al-Qaeda mulanya digunakan oleh Amerika Serikat untuk merongrong kekuatan Uni Soviet di wilayah Asia tengah semacam Afganistan, Krigistan, Kazakstan dsb.
Di indonesia jejak Al-Qaeda nampak pada banyak pelaku teror. Sebagian besar tersangka teroris pernah mengenyam pengalaman jihad di Afghanistan ataupun Palestina. Pengalaman inilah yang membuat mereka mampu mengkoordinasi serangan secara baik dan mampu menggalang dana yang besar untuk melakukan teror. Proses regenerasi di tubuh jaringan teroris ini juga mirip dengan apa yang terjadi di Al-Qaeda. Kebanyakan generasi pertama jaringan teroris di Indonesia adalah individu yang pernah melakukan jihad di Ambon dan Poso, daerah konflik agama pada sekitar tahun 2001.
Terorisme di Indonesia mulai mencuri perhatian dunia lewat Bom Bali I. Dua tempat hiburan malam yang luluh lantak oleh bom mobil dan kematian sektar 200 korban jiwa membuat publik global menyebut aksi ini sebagai aksi terorisme global terburuk ke-dua setelah 9/11. Indonesia menjadi sorotan dunia. Sebagai jawaban dari kondisi darurat ini maka Pemerintah Republik Indonesia membentuk satuan khusus yang bertugas menanggulangi permasalahan terorisme di Indonesia, densus 88. Densus 88 merupakan detasemen khusus anti teror yang terdiri dari berbagai elemen mulai dari pasukan khusus TNI Polri juga dari intelijan negara.
Semenjak densusu 88 berdiri, otomatis peburuan terorisme di Indonesia berlangsung lebih seru. Perkembangan penyelidikan dan penangkapan teroris bisa dengan mudah diakses masyarakat. Polri sebagai pemegang komando Densus 88 memang membuka pintu informasi kepada masyarakat umum tentang beberapa perkembangan terkait upaya pembrantasan teririsme di Indonesia. Selain untuk mengendalikan situasi dan kemanan, kerjasama dengan masyarakat juga dinilai mampu meredam terosisme minimal dengan meningkatkan kewaspadaan masyarakat umum terhadap ancaman dan bahaya terorisme.
Aksi terorisme memang sangat tidak beradab. Namun patut ditelkusuri lebih jauh apa latar belakang dari sebuah aksi teror. Terlebih jika terorisme manyinggung salah satu unsur agama tertentu dalam hal ini islam. Padahal jika bisa jeli memahami, jaringan teroris di Indonesia hanya menggunakan islam sebagai kedok.
Pengertian Terorisme
Kata terorisme berasal dari bahasa latin yakni Terrere (gemetaran) dan Deterrere (takut). Menurut kamus ilmiah Populer terorisme adalah hal tindakan pengacau dalam masyarakat untuk mencapai tujuan (bidang politik); penggunaan kekerasan dan ancaman secara sistematis dan terencana untuk menimbulkan rasa takut dan menggangu system-sistem wewenang yang ada.
Terorisme memiliki pengertian berdasarkan konvensi PBB tahun 1939, sebagi segala bentuk tindak kejahatan yang ditujukan langsung kepada negara dengan maksud menciptakan bentuk teror terhadap orang-orang tertentu atau kelompok orang atau masyarakat luas. Sedangkan menurut Departemen Pertahanan Amerika Serikat, terorisme merupakan perbuatan melawan hukum atau tindakan yang mengandung ancaman dengan kekerasan atau paksaan terhadap individu atau hak milik untuk memaksa atau mengintimidasi pemerintah atau masyarakat dengan tujuan politik, agama, atau ideologi. Jadi, berdasarkan penjelasan sebelumnya, kita dapat memahami bahwa unsur utama dari terorisme adalah penggunaan kekerasan yang dilatarbelakangi oleh motif-motif tertentu.
Beberapa Contoh Terorisme di Indonesia
Berikut adalah beberapa kejadian terorisme yang telah terjadi di Indonesia dan instansi Indonesia:
Tahun 1981 sekelompok teroris yang menamakan diri komando Jihad menyamar dan membajak pesawat Garuda penerbangan 206 Jakarta-Medan. Dengan bersenjatakan senapan mesin dan granat, kelompok teroris yang berjumlah lima orang ini menyamar sebagai penumpang dan melancarkan aksinya ketika pesawat sedang transit di Palembang. Dalam aksi ini terdapat sedikitnya satu kru pesawat tewas, tiga teroris tewas, dan dua sisanya ditahan oleh pihak keamanan.
Pada tahun 1985 Bom Candi Borobudur tepatnya pada tanggal 21 Januari 1985. Peristiwa terorisme ini adalah peristiwa terorisme bermotif "jihad" kedua yang menimpa Indonesia. Dengan ancaman untuk mengebom candi Borobudur untuk memperoleh perhatian dunia internasional.
1 Agustus 2000 terjadi peristiwa Bom di Kedubes Filipina. Sebuah bom meledak dari sebuah mobil yang diparkir di depan rumah Dubes Filipina, Menteng, Jakarta Pusat. Terdapat sedikitnya dua orang tewas dan 21 orang lainnya luka-luka, termasuk Dubes Filipina Leonides T Caday. Bom juga terjadi di Kedubes Malaysia, 27 Agustus 2000. Granat meledak di kompleks Kedutaan Besar Malaysia di Kuningan, Jakarta. Tidak ada korban jiwa. Serangan teroris terbesar adalah Bom BEJ, pada tanggal 13 September 2000. Ledakan bom mengguncang Gedung BEJ. Sepuluh orang tewas, 90 orang lainnya luka-luka. 104 mobil rusak berat, 57 rusak ringan.
Bom malam Natal, 24 Desember 2000. Serangkaian ledakan bom pada malam Natal di beberapa kota di Indonesia, merenggut nyawa 16 jiwa dan melukai 96 lainnya serta mengakibatkan 37 mobil rusak.
Pada tahun 2001 terdapat Bom Gereja Santa Anna dan HKBP, 22 Juli 2001. di Kawasan Kalimalang, Jakarta Timur, 5 orang tewas. Juga terdapat Bom Plaza Atrium Senen Jakarta, 23 September 2001. Bom meledak di kawasan Plaza Atrium, Senen, Jakarta. 6 orang cedera.Bom restoran KFC, Makassar, 12 Oktober 2001. Ledakan bom mengakibatkan kaca, langit-langit, dan neon sign KFC pecah. Tidak ada korban jiwa. Sebuah bom lainnya yang dipasang di kantor MLC Life cabang Makassar tidak meledak. Bom sekolah Australia, Jakarta, 6 November 2001. Bom rakitan meledak di halaman Australian International School (AIS), Pejaten, Jakarta.
Bom Bali, 12 Oktober 2002. Tiga ledakan mengguncang Bali. 202 korban yang mayoritas warga negara Australia tewas dan 300 orang lainnya luka-luka. Bom Bali 1 ini didalangi oleh Amrozi dan Imam Samudera yang merupakan kakak adik. Keduanya telah dijatuhi hukuman mati. Bom Bali I merupakan peristiwa terorisme terbesar setelah 9/11. Bom yang meledak di Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di duni ini tentu saja mendapat perhatian serius dari masyarakat dunia.
Bom JW Marriott, 5 Agustus 2003. Bom menghancurkan sebagian Hotel JW Marriott. Sebanyak 11 orang meninggal, dan 152 orang lainnya mengalami luka-luka. Penyerangan terhadap simbol simbol Amerika Serikat di Indonesia ini cukup ampuh dalam mena=cari perhatian masyarakat dunia dan Indonesia. J.W Mariot dan beberapa simbol Amerika seperti kedutaan dan perusahaan besar Amerika Serikat lainnya kerap dijadikan target operasi pemberantasan terorisme.
Bom Bali II, 1 Oktober 2005. Bom kembali meledak di Bali. Sekurang-kurangnya 22 orang tewas dan 102 lainnya luka-luka akibat ledakan yang terjadi di R.AJA's Bar dan Restaurant, Kuta Square, daerah Pantai Kuta dan di Nyoman Café Jimbaran. Masih dalam situasi mencekam akibat Bom Bali I Bali kembali diguncang bom. Meskipun tidak terlalu besar kerusakan dibanding Bom Bali I namun efek psikologis yang dihasilkan sangat besar. Menciptakan teror bahwa Bali belum aman dari teror Bom.
Bom Jakarta, 17 Juli 2009. Dua ledakan dahsyat terjadi di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Jakarta. Ledakan terjadi hampir bersamaan, sekitar pukul 07.50 WIB. Kedua bom ini merupakan cara lama dengan melakukan Bombing terhadap simbol Amerika Serikat. Dua bom ini sempat mematikan pertumbuhan pariwisata sebab beberapa negara mengeluarkan travel warning bagi Indonesia.
Peristiwa Bom Cirebon pada tanggal 15 April 2011. Ledakan bom yang dilakukan secara bunuh diri di Masjid Mapolresta Cirebon saat Shalat Jumat yang menewaskan pelaku dan melukai 25 orang lainnya. Peristiwa teror Bom Solo, pada tanggal 25 September 2011. Ledakan bom bunuh diri di GBIS Kepunton, Solo, Jawa Tengah usai kebaktian dan jemaat keluar dari gereja. Satu orang pelaku bom bunuh diri tewas dan 28 lainnya terluka. Bom Solo, 19 Agustus 2012. Granat meledak di Pospam Gladak, Solo, Jawa Tengah. Ledakan ini mengakibatkan kerusakan kursi di Pospam Gladak. Tidak ada korban jiwa. Kasus terkahir adalah bom yang diledakkan di tempat tempat kecil. Biasanya dilakukan oleh kelompok baru dan belum berpengalaman.
Jaringan Terorisme di Indonesia
Jaringan terorisme di Indonesia dipelopori oleh kelompok jamaah Islamiyah. Yang merupakan wakil Al-Qaedah di asia tenggara. Menurut pernyataan Polri, pemimpin JI adalah ustadz Abu Bakar Baasyir. Sedangkan beberapa sosok yang tergabung dalam kelompok ini adalah Amrozi, Imam Samudra, Mukhlas, Dr. Azahari, dan Nurdin M. Top. Masih banyak anggota dari Jamaah Islamiyah namun baru beberapa yang identitasnya dibeberkan kepada publik dan media.
Jamaah Islamiyah merupakan jaringan utama terorisme di Indonesia. Pasca Bom Bali I jaringan ini terus diburu oleh Densus 88. Akibat ketatnya pengejaran akhrinya gerakan JI tidak lagi terpusat pada satu pemimpin. Mulai muncul jaringan jaringan baru yang melakukan aksi sendiri. Misalkan Nordin M Top yang mendalangi pemboman hotel J.W Mariot. Nama Nordin M/. Top digadang-gadang akan menjadi penerus dari Dr. Azahari yang merupakan gembong teroris dari Malaysia. Kematian Dr. Azahari di Batu Malang membuat aksi terorisme sempat vakum dalam beberapa saat.
Setelah Jamaah Islamiyah dan Jaringan individu. Mulai marak Jaringan Kota. Aksi terorisme mulai dibagi dalam beberapa region kota. Terdapat bebrapa jaringan diantaranya Jaringan Solo yang beberapa waktu lalu melakukan serangkaian penembakan di pos polisi selama arus mudik lebaran. Juga beberapa aksi bom paku di gereja di Solo.
Jaringan Depok dan Bekasi dengan aksi Bom Buku yang dikirimkan kepada kepolisian dan meledak yang mengakibatkan luka luka. Jaringan Depok dan Bekasi ini fokus dalam pengkaderan dan pencarian dana untuk aksi terorisme. Sifat ancaman dari jaringan ini relatif kecil, hanya berskala lokal. Namun karena pemberitaan media yang begitu besar, maka aksi dari jaringan ini dianggap sudah memasuki ranah kemanan nasional.
Terorisme di Indonesia begitu mudah berkembang karena mudahnya ideologi idologi radikal berkembang. Tanpa menyudutkan salah satu agama, terorisme sebagian besar lahir dari pengajian yang menyimpang yang mengajarkan radikalisme. Proses perekrutan sendiri mengguanakan metode brainwash dengan iming iming jihad dan surga. Padahal sudah jelas dalam Islam tidak mengajarkan kekerasan terlebih dalam bentuk terorisme.

Comments
Post a Comment