![]() |
| Potret Sutan Syahrir |
Era pergerakan nasional adalah masa dimana perjuangan bangsa ini mulai bergejolak. Suatu era yang sangat berperan dalam usaha memperolah tujuan akhir perjuangan, yakni kemerdekaan. Era ini banyak melahirkan pemikir-pemikir besar, politikus besar, yang perjuangan dan kontribusinya sangatlah besar dalam memperjuangkan kemerdekaan negara Indonesia. Satu sosok yang coba penulis angkat di antara sekian banyak tokoh pada masa itu adalah Sutan Syahrir.
Sutan Syahrir adalah nama populer dalam sejarah perjuangan bangsa. Ia sosok yang cerdas, sosok intelektual muda, jurnalis handal, diplomat, aktivis politik, perdana menteri termuda di dunia, seorang sosialis sejati, revolusioner tetapi anti kekerasan. Sutan Syahrir terjun dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia sejak dalam masa pendidikan AMS di Bandung. Setelah itu perjuangannya berlanjut ketika menjadi mahasiswa di Belanda. Ia merupakan tokoh yang berhaluan sosialis. Syahrir aktif dalam organisasi Perhimpunan Indonesia yang dipimpin oleh Mohammad Hatta. Bersama Hatta, keduanya rajin menulis di Daulat Rakjat, majalah milik Pendidikan Nasional Indonesia, dan memisikan pendidikan rakyat harus menjadi tugas utama pemimpin politik.
Tahun 1931, Syahrir kembali ke tanah air dan terjun dalam pergerakan nasional. Syahrir bergabung dalam organisasi Partai Nasional Indonesia (PNI Baru). Ia kemudian menjadi ketua pada bulan Juni 1932. Bersama Hatta, Syahrir mengemudikan PNI Baru sebagai organisasi pencetak kader-kader pergerakan. Ia juga dekat dengan kaum buruh sehingga pada bulan Mei 1933 ia di tunjuk menjadi Ketua Kongres Kaum Buruh Indonesia.
Pada masa pendudukan Jepang terjadi perbedaan pandangan antara Soekarno dengan Syahrir. Soekarno dan Hatta lebih bersifat kooperatif dengan pemerintah Jepang, sementara Syahrir membangun jaringan gerakan bawah tanah anti-fasis. Ketika Jepang kalah dalam Perang dunia II, Syahrir yang didukung para pemuda mendesak Soekarno dan Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan pada 15 Agustus. Syahrir siap dengan massa gerakan bawah tanah untuk melancarkan aksi perebutan kekuasaan sebagai simbol dukungan rakyat. Soekarno dan Hatta berpandangan bahwa sesuai prosedur lewat keputusan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dibentuk oleh Jepang.
Ketika menjabat Perdana Menteri, Syahrir pernah diculik oleh sekelompok orang yang tidak puas dengan diplomasi yang dilakukan oleh pemerintahan Kabinet Sjahrir II dengan pemerintah Belanda yang menyebabkan kekuasaan Indonesia hanya meliputi Jawa dan Madura. Meski jatuh-bangun akibat berbagai tentangan di kalangan bangsa sendiri, Kabinet Sjahrir I, Kabinet Sjahrir II sampai dengan Kabinet Sjahrir III (1945 hingga 1947) konsisten memperjuangkan kedaulatan RI lewat jalur diplomasi.
Pada 14 Agustus 1947 Syahrir berpidato di muka sidang Dewan Keamanan PBB. Berhadapan dengan para wakil bangsa-bangsa sedunia, Syahrir mengurai Indonesia sebagai sebuah bangsa yang berabad-abad berperadaban aksara lantas dieksploitasi oleh kaum kolonial. Kemudian, secara piawai Syahrir mematahkan satu per satu argumen yang sudah disampaikan wakil Belanda, Eelco van Kleffens. Dengan itu, Indonesia berhasil merebut kedudukan sebagai sebuah bangsa yang memperjuangan kedaulatannya di gelanggang internasional. PBB pun turut campur, sehingga Belanda gagal mempertahankan upayanya untuk menjadikan pertikaian Indonesia-Belanda sebagai persoalan yang semata-mata urusan dalam negerinya.
Van Kleffens yang merupakan diplomat Belanda yang bertikai dengan Indonesia di PBB, dianggap gagal membawa kepentingan Belanda dalam sidang Dewan Keamanan PBB. Berbagai kalangan Belanda menilai kegagalan itu sebagai kekalahan seorang diplomat ulung yang berpengalaman di gelanggang internasional dengan seorang diplomat muda dari negeri yang baru saja lahir.
Setelah kasus PRRI tahun 1958 hubungan Sutan Syahrir dan presiden Soekarno memburuk. Tahun 1962 hingga 1965, Syahrir ditangkap dan dipenjarakan tanpa diadili sampai menderita stroke. Setelah itu Syahrir diijinkan untuk berobat ke Zürich Swis, dan akhirnya meninggal di Swiss pada tanggal 9 April 1966.

Comments
Post a Comment