Skip to main content

Marxisme: Eksistensi dan Hakikat Manusia (bagian 2)

Biografi Karl Marx (1818-1883)

Karl Marx dilahirkan di Treves, kota kecil di wilayah Rhineland, Jerman. Ia adalah keturunan rahib Yahudi dari pihak ayah dan ibunya, namum kemudian ayahnya yang merupakan pengacara terkenal pindah ke agama Protestan.[5] Marx menerima pendidikan di Universitas Bonn, Berlin, dan Jena, secara serius Marx mengkaji mengenai sejarah, ilmu hukum, dan filsafat. Tahun 1836 Marx belajar ilmu hukum di Bonn, lepas satu semester pindah ke Berlin untuk belajar filsafat disinilah Marx mendalami filsafat Hegel dan kemudian digunakannya untuk melakukan kritik terhadap sistem politik di wilayah Jerman. Tahun 1814 di kota Jena Marx memperoleh gelar Doctor dalam bidang filsafat.[6]

Marx berusaha untuk menjadi staf pengajar di universitas, namun upaya Marx gagal hal inilah yang mengantarkan Marx beralih pada jurnalisme, posisinya sebagai staf Rheinische Zeitung, surat kabar demokratis –liberal yang terbit di Cologne. Tahun 1843 Marx menikah dengan Jenni Von Westphalen, mereka dikaruniai enam orang anak dan tiga diantaranya meninggal pada usia dini. Marx setelah menikah pergi ke Paris sehingga ia dapat berhubungan dengan banyak pemikir sosialis Prancis. Selama tinggal di Paris, Marx bertemu dengan Friederich Engels, yang merupakan putra pengusaha tekstil Jerman yang kaya, pada masa selanjutnya Engels ini merupakan teman akrab Marx dan ia banyak membantu Marx dalam hidupnya, pada saat itu Engels mengelola pabrik di kota Manchester, melalui Engels inilah Marx menjadi tahu mengenai kondisi buruh dan ekonomi Inggris.[7] Tidak lama Marx tinggal di Prancis Marx di usir karena ia menulis di salah satu surat kabar Paris menyerukan revolusi Jerman, akhirnya Marx pergi ke Brussel dan membentuk liga komunis yang merupakan organisasi yang berusaha menyatukan orang-orang yang membentuk mazhab baru sosialisme. 

Tahun 1848 terjadi revolusi di Jerman, Marx kembali ke tanah airnya Rhineland untuk ikut serta dalam gerakan tersebut, namun pada akhirnya gerakan revolusi Jerman gagal dan Marx terbang ke London untuk menghabiskan masa hidupnya. Pada tahun 1864 Asosiasi Pekerja Internasional di dirikan di London , dengan tujuan adalah menjadi lembaga yang mewakili proletariat dari semua negara, dengan cepat Marx menjadi kekuatan dominan dalam organisasi baru tersebut.[8]

Marx sangat anti agama, sehingga filsafatnya didasarkan atas metafisika materialistik. Marx berpendapat agama adalah hasil proyeksi keinginan manusia, Marx berfikir keinginan yang timbul ditengah-tengah manusia tertentu didapatkan didalam hubungan kemasyarakatan. Perasaan-perasaan dan gagasan-gagasan keagamaan adalah hasil suatu bentuk masyarakat tertentu. Jika membicarakan manuisa tidak boleh membicarakannya sebagai tokoh yang abstrak, yang berada di luar dunia ini. Manusia berarti manusia, yaitu negara, masyarakat. Negara, Masyarakat inilah yang kemudian menghasilkan agama.[9] Dalam hidupnya Marx mengetengahkan prinsip bagaimana hidup, dan membangun masyarakat dan negara, sehingga Ia harus mengalami pembuangan diluar negeri dengan demikian Ia menjalani hidup yang terlunta-lunta diberbagai negara Eropa yaitu Jerman, Belgia, Prancis, dan Inggris, hingga akhirnya Marx meninggal di Inggris pada tahun 1883. 

Filsafat Karl Marx

Telah dijelaskan diatas mengenai perjalanan hidup Kalr Marx, selanjutnya dibagian ini akan dijelaskan mengenai filsafat[10] Kalr Mark dan karya-karyanya. Filsafatnya sangat dipengaruhi oleh filsafat dialektika Hegel[11], tetapi dia menolak konsep idealisme Hegel beserta konsep kebenaran absolut. Marx kemudian menggantinya dengan dialektika materialisme[12] yang bersifat ateistis. Perbedaan antara dialektika Hegel dengan dialektika materialisme milik Marx terletak pada alur proses. Dialektika Hegel menyatakan bahwa sejarah proses terbentuknya idea atau konsep, atau pemahaman manusia kemudian dapat mendorong perubahan sosial politik. Sebaliknya, dialektika materialisme Marx justru menganggap bahwa proses transformasi ekonomilah yang mendorong cara pikir manusia untuk menimbulkan idea atau konsep baru. Dia memandang bahwa pikiran manusia sebagai institusi yang aktif dapat beradaptasi dalam menanggapi kondisi lingkungan. 

Marx kemudian menggunakan konsep dialektika materialisme dan menjelaskan tiga sisi konflik antar kelas ekonomi . Sisi pertama (para tuan tanah) melawan sisi kedua (kelas menengah) menghasilkan sisi ketiga (kelas ekonomi baru), yaitu buruh industri para kapitalis. Visi Marx selanjutnya adalah tesis yang berupa kapitalisme melawan antitesis berupa kaum pekerja atau proletar yang akan menghasilkan sintesis sosialisme.[13] Menurut Marx, sejarah manusia bisa dilihat sebagai rangkaian perjuangan kelas. Konflik kelas paling signifikan pada abad pertengahan adalah konflik antara kelas pedagang dan kelas aristrokrasi feodal kuno. Pemecahan masalah ini adalah melalui sistem sosial yang baru, yaitu kapitalisme. Namun, kapitalimse ternyata juga dikendalikan oleh kelas tertentu. Marx meyakini bahwa mesin sejarah modern di bawah kapitalisme adalah perjuangan politik antar para borjuis dan para proletar.[14]

Pemahaman mengenai filsafat Karl Mark bisa dilihat pada karya-karya tulisannya seperti The Economics and Philosophical Manuscripts, ditulis Marx tahun 1844, ketika Marx berusia 26 tahun. Dalam manuskrip, Marx mengatakan bahwa kapitalisme manusia di alienasikan dari pekerjaan, barang yang dihasilkan, majikan, rekan sekerja dan diri mereka.[15] Maksudnya yaitu melalui kerja manusia mewujudkan bakat-bakat dirinya, mengenal dirinya. Lewat kerjanya juga manusia menyatakan kebebasannya sebagai tuan atas alam dengan mengubah alam sesuai keinginannya. 

Selain itu Marx juga berpendapat bahwa kerja juga menyatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial, sebab hasil kerjanya adalah hasil objektifitas dirinya yang bisa diakui atau dimanfaatkan oleh orang lain. Semua ciri kerja ini sudah lenyap dalam masyarakat industri. Dalam “kerja upahan” (Lohnarbeit), pekerja manjual tenaganya. Hasil kerjanya lalu menjadi milik perusahaan sehingga dia teraliensi dari produknya sendiri. Selain itu, dalam kerja upahan, pekerja juga teraliensi dari aktivitas kerjanya sendiri, sebab jenis kerjanya ditentukan majikan. Lalu, karena dia mau tetap hidup, dia terpaksa memperalat dirinya untuk mendapat nafkah; artinya dia pun teraliensi dari dirinya sendiri dengan lenyapnya kebebasan. Akibatnya, terjadi persaingan di antara para pekerja dan permusuhan antara pekerja dan majikan, sehingga kerja upahan juga mengasingkan manusia dari sesamanya. Marx lalu menganggap alienasi akan diakhiri melalui penghapusan institusi hak milik itu, sehingga masyarakat tidak terbagi menjadi kelas-kelas yang saling bertentangan. Ini tidak dilakukan lewat refleksi seperti yang dikatakan Hegel, tetapi lewat praktis yaitu revolusi.[16]

Karya selanjutnya The Manifesto of the Communist Party, atau Manifesto Partai Komunis dicetak pada bulan Februari, 1845 merupakan karya Karl Marx dan Engels. Dalam buku ini dikemukakan mengenai hakikat perjuangan kelas, yang dijelaskan:
“sejarah dari semua masyarakat yang ada sampai saat ini merupakan cerita dari perjuangan kelas. Kebebasan dan perbudakan, bangsawan dan kampungan, tuan dan pelayan, kepala serikat kerja dan yang ditentukan, berada pada posisi yang selalu bertentangan satu sama lainnya, dan berlangsung tanpa terputus”[17]
Kemudian menurut Marx Komunisme adalah sebuah kekuatan dan tiba saatnya kekuatan itu bersuara, hal ini yang menjadi bagian dari cita-cita Marx ketika menulis Manifesto. Cita-cita yang lain adalah mengubah dunia dengan membawa dunia pada fase historis yang terakhir, yaitu komunisme dan tujuan politiknya untuk lebih memfokuskan sebuah revolusi.[18] Ia menuliskan, 
“masa transformasi revolusioner akan mengubah masyarakat kapitalis menjadi masyarakat komunis. Revolusi ini juga menyangkut masa peralihan kekuasaan dari negara kepada diktator proletar…”[19]
Manifesto juga berisi sebuah filsafat sejarah, yang kemudian dikenal sebagai materialisme historis. Teori sejarah Marx tidak mencoba untuk menjelaskan sedikit mengenai sejarah manusia, tetapi menerangkan evolusi sebagai bagian dari teori sejarah, yang bernama sejarah sosial dan ekonomi. Marx berpendapat bahwa setiap produksi yang dihasilkan tidak berdasar pada kesanggupan, tetapi berdasarkan adanya kelas penguasa dan kelas pekerja. Kelas pekerja memproduksi bahan-bahan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup, dan kelas penguasa berdiri di atas mereka, mengambil untuk dirinya sendiri kelebihan dari pekerja-pekerja mereka. Para pekerja, kemudian dieksploitasi oleh kelas penguasa untuk memenuhi kebutuhan mereka dan pada akhirnya juga kelebihan-kelebihan mereka.

Ada beberapa model produksi menurut Karl Marx yaitu “model produksi kuno” dimana kelas penguasa memiliki budak pekerja sesuai dengan pembagiannya. Budak memproduksi apa yang mereka sendiri sungguh butuhkan, kebutuhan akan makanan, pakaian, dan tempat tinggal.[20]Selanjutnya adalah model produksi yang feodal. Di sini, para budak yang mengolah tanah lebih daripada budak yang memproduksi kebutuhan material di masyarakat. Buruh tanah menikmati sebagian kecil dari kebebasan yang lebih besar daripada apa yang dialami dalam perbudakan para penduhulnya. Para budak tanah memiliki beberapa hak kepemilikan tanah dan juga tingkat kekuatan untuk mengambil keputusan kapan dan bagaiman mereka menyebarkan pekerja mereka. Marx tetap mencatat bahwa tanah di mana para buruh tanah itu bekerja bukan milik mereka sungguh-sungguh; tanah dimiliki oleh tuan tanah dan akhirnya monarki.[21]

Marx berargumen bahwa model feodal ini secara bertahap memberikan jalan untuk model kapitalis. Di sini, pekerja upahan, atau kaum proletar, menjadi pekerja utama dalam masyarakat. Kelas kapital, tidak seperti penguasa budak atau tuan feodal, berdiri di atas kelas pekerja, sebagai kelas yang menentukan aturan. Kelas kapital mengeksploitasi kaum proletariat dan mengambil keuntungan dari pekerja mereka, sekarang lewat sarana-sarana untuk mendapatkan keuntungan. Keuntungan memberikan kepada kapitalis uang untuk konsumsi mereka sendiri.[22]

Karya lain Karl Marx yaitu Das Kapitalyang berisi ajaran mengenai “nilai lebih” dan “kehancuran otomatis sistem kapitalisme”. Kedua pokok ini tidak lagi merupakan analisis filosofis, melainkan sebuah analisis ekonomis ketat. Nilai lebih diperoleh karena pekerja bekerja melampau waktu yang wajar. Kelebihan waktu itu adalah kerja tanpa upah. Jadi, keuntungan diraih dari waktu kerja yang lebih itu. Di sini, Marx menemukan sifat eksploitatif dari kapitalisme, karena, menurutnya, proses akumulasi modal adalah proses perampasan dari kaum buruh sendiri, yaitu tansaga labihnya tak dibayar dan menjadi keuntungan kapitalis.[23] Keuntungan kapitalis selanjutnya diinvestasikan untuk alat produksi, seperti teknologi, peralatan, dan lain-lain. Jadi kelas kapitalis ini secara cepat memperbaharui alat produksi. Kapitalis akan semakin agresif menginvetasikan uangnya pada teknologi dan semakin sedikit menginvestasikan uangnya pada faktor pekerja atau buruh. Karena pada dasarnya keuntungan produksi diperoleh dari faktor pekerja.[24]

Ajaran kedua, tentang kehancuran kapitalisme,adalah sebuah analisis yang sangat deterministis. Menurut analisis Marx, proses eksploitasi kaum buruh melalui nilai lebih akan menghasilkan krisis-krisis yang niscaya. Krisis disebabkan oleh kenyataan bahwa perusahaan-perusahaan besar menelan perusahaan-perusahaan kecil, sampai akhirnya jumlah kaum kapitalis semakin mengecil dan pemiskinan massa semakin meningkat. Cepat atau lambat, namun niscaya, pertumbuhan kapitalisme itu secara otomatis akan menumbuhkan kesadaran revolusioner dari pihak massa yang dipermiskin dan dieksplotasi, dan sistem kapitalis akan menemui jalan buntunya untuk mengatasi krisis itu. Pengangguran bertambah, inflasi membumbung, produksi tak terjual, dst., dan sistem kapitalis akan menghancurkan dirinya sendiri. Itulah saat munculnya masyarakat tanpa kelas. Dengan demikian, munculnya sosialisme dibayangkan oleh Marx.[25]

[5]Henry J. schmandit.512. Filsafat Ilmu Politik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. hlm. 512.
[6]Firdaus Syam. Pemikiran Politik Barat . Jakarta: Bumi Aksara. 2007. hlm. 165.
[7]Henry J. Schmandit. Op.Cit. hlm. 513.
[8]Henry J. Schmandit. Log.Cit. 513.
[9]Harun Hadiwijono. 1980. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta: Kanisius. hlm. 120.
[10]Salah satu pertanyaan yang akan muncul sesudah ajaran-ajaran sosial Marx mempengaruhi secara mendalam berbagai bidang sosial, politik, ideologi, dan ekonomi adalah apakah Karl Marx itu seorang filsuf atau bukan. Lama di kalangan masyarakat, Marx lebih dikenal sebagai seorang ahli ekonomi yang membuat analisis-analisis objektivitis atas sejarah dan ekonomi. ( Lihat F. Budi Hardiman. FilsafatModern dari Machiavelli sampai Nietzsche. 2007. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. hlm: 234 ).
[11]Georg Wilhelm Friedrich Hegel atau biasa dipanggil Hegel adalah filsuf idealis yang lahir di Stuttgart Jerman, dikenal dengan hasil karyanya yang sulit dipahami. Mereka yang memberikan komentar terhadap tulisan Hegel, terutama sejak permulaan abad ke-20, menggunakan kata-kata “tak terselami, sulit, tak terpahami, tidak jelas dan dalam bagian-bagian tertentu “tak terkatakan” (Garvey, James. 2010. 20 Karya Filsafat Terbesar, (diterjemahkan dari James Garvey, The Twenty Greatest Philosophy Books). Yogyakarta: Kanisius. hlm. 173)
[12]Kata “materialisme” dalam filsafat Marx jangan dipahami sebagai ajaran metafisis tentang materi sebagai kenyataan akhir. Istilah ini lebih berarti bahwa Marx memandang bahwa bukan pikiran, melainkan kerja sosiallah yang merupakan kegiatan dasar manusia. Ibid. hlm 235
[13]Kumara Ari Yuana. 2009. The Greatest Philosophers 100 Tokoh Filsuf barat dari Abad 6 SM-Abad 21 yang Menginspirasi Dunia Bisnis. Yogyakarta : ANDI. hlm. 254
[14]Turnbull, Neli. 2005. Bengkel Ilmu Filsafat,(Diterjemahkan oleh Alfatih Geusan Pananjung A). Jakarta : Erlangga. hlm. 136.
[15]Firdaus Syam. 2007. Pemikiran Politik Barat : Sejarah, Filsafat, Ideologi, dan Pengaruhnya Terhadap dunia Ke-3. Jakarta : Bumi Aksara. hlm : 174.
[16]F. Budi Hardiman. Filsafat Modern dari Machiavelli sampai Nietzsche. 2007. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. hlm: 238-239
[17]Firdaus Syam, op.cit., hlm. 175
[18]Garvey, James. 2010. 20 Karya Filsafat Terbesar, (diterjemahkan dari James Garvey, The Twenty Greatest Philosophy Books). Yogyakarta: Kanisius. hlm. 206.
[19]Kumara Ari Yuana, op.cit., hlm. 257
[20]Para budak bekerja selama seminggu, yang dalam kasus ini adalah tujuh hari, Minggu, yang merupakan kerja kebutuhan, kerja tersebut yang menyediakan produk untuk kebutuhan hidup para budak dan keluarganya; kerja enam hari yang lain adalah kerja surplus dan semua produknya dimiliki oleh pemilik budak, digunakan untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya dan untuk memperkaya sendiri. (Lihat Mandel, Ernest. 2006. Tesis Tesis Pokok Marxisme. Diterjemahkan oleh Ign. Mahendra. Yogyakarta: Resist. hlm. 120).
[21]Para petani budak bekerja selama seminggu yang dibagi menjadi dua bagian yang sama : petani budak bekerja tiga hari di tanah dimana hasilnya menjadi milik dia; tiga hari yang lainnya dia bekerja di tanah tuan feudal, tanpa bayaran, memberikan kerja gratis bagi kelas berkuasa (Ibid. hlm. 121).
[22]Garvey, James, op.cit., hlm. 210-211.
[23]F. Budi Hardiman, op.cit., hlm. 242-243.
[24]Kumara Ari Yuana, op.cit., hlm. 256. 

Comments

Popular posts from this blog

Historiografi Asia Selatan

Ilustrasi Peninggalan Sejarah di India Perkembangan histiografi di Asia selatan dapat dibagi dalam dua periode yakni tradisional dan modern. Pada masa historiografi tradisional sumber-sumber kesusasteraan masih sangat kental. Semisal dengan ada banyaknya cerita cerita epik ataupun kitab kitab yang menceritakan kisah raja raja. Sedangkan dalam historiografi modern lebih mengarah ke India hal ini dikarenakan India merupakan yang paling mengesankan dalam kuantitas atau kualitasnya. Serta india berkembang dengan pesat dibandingkan dengan wilayah lain seperti pakistan, sri lanka atau bangladesh  Historiografi Tradisional Masa sebelum masuknya agama Islam ke India  Kebudayaan pertama di asia selatan adalah kebudayaan mohenjodaro dan harappa. Dari penggalian reruntuhan bekas lokasi kebudayaan ini ditemukan bahwa kebudayaan ini memiliki tingkat kemajuan yang cukup tinggi. Dimana tata kota sudah diatur sedemikian rupa dengan adanya pengaturan kapling rumah, pemand...

Kota Tegal Dalam Sejarah

Raden Dewi Sartika

Potret Raden Ayu Dewi Sartika. source: wikimedia.org Salah satu tokoh yang memiliki peranan penting dalam pergerakan nasional indonesia adalah Dewi Sartika. Bisa dikatakan peran yang dimainkan oleh Dewi Sartika tidak kalah penting dengan Kartini. Meskipun sama sama berjuang membela hak perempuan namun terdapat beberapa perbedaan antara Kartini dan Dewi Sartika. Itulah yang membuat perjuangan Dewi Sartika memiliki makna tersendiri bagi perempuan perempuan Indonesia. Dewi Sartika merupakan salah satu tokoh pelopor dalam hal pendidikan untuk kaum perempuan. Dewi Sartika lahir di Bandung 4 Desember 1884. Orang tua Dewi Sartika adalah salah satu priyayi di tanah sunda, Raden Somanegara dan Nyi Raden raja Permas. Sejak kecil Dewi Sartika sudah mendapatkan pendidikan barat dari asisten residen Cicalengka. Tempat dimana pamannya bupati Martanegara berkedudukan. Tidak hanya belajar, Dewi Sartika sejak kecil juga sudah mulai mengajar teman teman sebayanya segalaa hal yang dia pelajari...