![]() |
| Add caption |
Secara historis, konsep manusia, seperti yang telah disebutkan diatas, memang mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Apabila, kalau sudah membandingkan antara konsep yang satu dengan konsep yang lain. Sebagai contoh pembeda adalah konsep manusia antara pemikiran “barat” dan “timur”. Perbedaan pandangan diantara keduanya sangat mencolok dan hal tersebut tidak lepas dari faktor historis dimasing-masing kubu. Kalau di barat, eksistensi manusia dan hakikat manusia lepas dari pengaruh realitas tertinggi dari yang sudah ada. Namun, pada pemikiran timur, justru sebaliknya. Walaupun ada juga yang bersinggungan diantara keduanya. Disini unsur agama sangat memengaruhi dan memiliki peran sentral yang menjadi pembeda.
Agama sebagai sebuah institusi yang menyediakan perangkat fasilitas yang menempatkan manusia pada posisi bermartabat, sebagai makhluk paling sempurna. Keberadaan agama, meskipun demikian, bukan berarti tidak pernah digugat. Sementara pemikir meragukan, mempertanyakan, dan bahkan memberikan penilaian negatif terhadap keberadaan agama. Terkadang agama menjadi sebuah momok yang menakutkan bagi manusia, seakan-akan agama itu sebuah tembok besar yang mengukung ekspresi, aktualisasi, dan potensi manusia. Hingga pada akhirnya, mereka yang merasa “dirugikan” mencari jalan lain guna mendapatkan hakikat manusia dan eksistensi mereka terjaga.
Problem seperti inilah yang banyak menghinggapi para pemikir barat. Trauma historis dari masa yang kelam, dimana eksistensi mereka dimatikan dan tidak bisa berbuat apa-apa justru dibuat oleh oknum agamawan. Hal inilah yang membuat mereka mencari konsep yang lain mengenai jati diri mereka sendiri. Hal inilah yang terjadi pada seorang filsuf Jerman yakni Karl Marx yang melahirkan Marxisme. Marx beranggapan bahwa, agama itu candu bagi manusia. Lebih lanjut lagi ia mengatakan bahwa agama merupakan bentuk pelarian manusia dari masalah sosial-ekonomi yang tidak dapat diselesaikan.[2]Marx juga mengindikasikan bahwa dengan agama sebenarnya manusia menjadi makhluk yang terasing. Dari sisi politik dan ekonomi, Marx lebih jauh memandang bahwa agama hanya dijadikan benteng kekuasaan dan penekanan perekonomian kelas menengah. Sebenarnya sebelum Marx, para pemikir barat juga menolak adanya campur tangan agama dalam eksistensi dan hakikat manusia. Khususnya para pemikir Jerman (prussia kala itu) seperti Feurbach, Nitsche, dan lain sebagainya. Mereka terkenal dengan para pemikir eksistensialisme.
Kembali lagi pada pemikiran Marx yakni tentang sosialisme. Menurut Marx, sosialisme merupakan sarana pemenuhan kebutuhan manusia. Sosialisme juga akan membuat manusia tidak teralienasi dan juga bahwa sosialisme merupakan sebuah protes sebagaimana yang sering disampaikan oleh para pemikir eksistesialis yang menentang adanya alienasi bagi manusia. Sebagai gerakan protes, eksistensialisme juga melakukan pemberontakan terhadap alam kehidupan yang cendrung impersonal ( tanpa kepribadian) dizaman industri yang menundukkan manusia kepada mesin sebagai proses fisik; dan terhadap gerakan-gerakan massa.[3]
Menjelang akhir abad ke-19, Jerman terdiri atas tiga puluh sembilan negara bagian yang saling besaing diantaranya adalah Prussia dan Austria yang juga merupakan negara termuka di Eropa. Persaingan diantara keduanya menghambat usaha penyatuan Jerman. Selain itu, faktor yang juga berperan dalam menghambat usaha penyatuan Jerman ialah struktur sosial dan struktur ekonomi yang masih terbelakang.[4] Marx yang melihat fenomena demikian berusaha untuk mendongkrak keterbelakangan di Jerman dengan berbagai karya-karyanya. Sebelum ide revolusi proletariat didengungkan, sebelumnya telah terjadi revolusi borjuis yang menentang sistem feodalistik. Akan tetapi, kaum borjuis tersebut juga tidak bisa lepas dari pengaruh kaum jungker yang telah memiliki pengaruh kuat dikalangan militer dan birokrasi instansi pemerintahan sipil. Bagi Marx, adanya revolusi borjuis akan memungkinkan jalannya revolusi proletariat semakin mulus. Selain itu, di Jerman yang sangat terbelakang dalam struktur ekonomi dan sosial bila dibandingkan dengan negara kapitalis seperti Inggris dikarenakan sistem feodalistik yang masih menjadi acaun perpolitikan dan perekonomian.
[1]Mustofa Anshori Ridinillah. 2005. Agama dan Aktualisai diri (Perspektif FIlsafat Muhammad Iqbal). Yogyakarta: Badan Penerbitan Filsafat UGM. hlm. 1
[2]Ibid.,hlm.2.
[3]Supaat I. Latif. 2010. Psikologi Fenomenologi-Eksistensialisme (cet.2). Lamongan: Pustaka Pujangga. hlm. 3
[4] Anthony Giddens. 1986. kapitalisme dan Teori Sosial modern(Suatu analisis karya tulis Marx, Durkheim, dan Max Weber). Jakarta: UI Press. hlm. 228.

Comments
Post a Comment