
Konsep Sosialisme Marx
Konsep sosialisme Marx berasal dari konsepnya tentang manusia. Menurut konsep tentang manusia ini, sosialisme bukan sebuah masyarakat yang tersusun atas individu-individu yang diatur dan otomatis yang mengabaikan apakah mereka memiliki pendapatan yang cukup atau tidak, dan yang mengabaikan apakah pangan dan sandang mereka tercukupi dengan baik atau tidak. Sosialisme bukanlah sebuah masyarakat di mana individu tersubordinasikan oleh negara, mesin dan birokrasi. Tujuan sosialisme adalah manusia. Sosialisme harus menciptakan sebuah bentuk produksi dan organisasi masyarakat di mana manusia dapat mengatasi alienasi dari produknya, dari kerjanya, dari sesamanya, dari dirinya sendiri dan dari alam; di mana dia dapat kembali menjadi dirinya sendiri dan menguasai dunia.
Dalam konsep sosialisme Marx, individu berpartisipasi secara aktif dalam perencanaan dan pelaksanaannya, pendeknya, merupakan pewujudan demokrasi politik dan industrial. Sosialisme, bagi Marx, adalah sebuah masyarakat yang memberi ruang bagi aktualsasi esensi manusia, dengan cara mengatasi alienasinya. Sosialisme tidak kurang dari menciptakan kondisi-kondisi untuk mencapai manusia yang benar-benar bebas, rasional, katif dan independen. Bagi Marx, tujuan sosialisme adalah kebebasan, tetapi kebebasan yang maknanya jauh lebih radikal daripada yang dipahami oleh demokrasi yang hidup pada saat itu, yakni dalam pengertian independen yang didasarkan pada kedirian manusia yang berpijak pada kakinya sendiri, yang menggunakan kekuasaannnsya sendiri dan menghubungkan dirinya dengan dunia secara produktif.
Politik Marx
Masyarakat dan Negara. Negara menurut Marx sebagai alat belaka dari kelas penguasa (berpunya) untuk menindas kelas yang dikuasai (yang tidak berpunya). Negara dan pemerintahan identik dengan kelas penguasa, artinya dengan kelas berpunya dalam sejarah berturut dikenal kelas pemilik budak, kelas bangsawan (tuan tanah), kelas borjuis. Ini berkaitan dengan dialektika bahwa perkembangan masyarakat feodalisme kemasyarakatan borjuis atau kapitalisme dan se-lanjutnya menuju masyarakat sosialisme yang perubahan itu merupakan kelanjutan yang tidak dapat dielakkan. Untuk menuju masyarakat komunis, tidak dengan berdiam diri, melainkan harus berjuang bukan menanti dialektika sejarah itu.
Bagi Marx religion is the opium of people, adalah ungkapannya yang terkenal bagaimana umumnya orang memiliki penilaian terhadap sikap kalangan komunis terhadap keberadaan agama ditengah masyarakat dan Negara. Marx memandang agama tidak menjadikan manusia menjadi dirinya sendiri, melainkan menjadi sesuatu yang berada diluar dirinya yang menyebabkan manusia dengan agama menjadi makhluk yang terasing dari dirinya sendiri. Agama adalah sumber keterasingan manusia. Agama harus dilenyapkan karena agama sebagai alat kaum borjuis kapitalis untuk mengeksploitasi kelas pekerja. Agama dijadikan sebagai alat kekuasaan untuk mempertahankan kekuasaannya, selain dijadikan alat agar rakyat tidak melakukan perlawanan, pemberontakan, dibiarkan terlena dan patuh atas penguasa, dan semua ini sebagai fungsi eksploitasi agama. Agama adalah produk dari perbedaan kelas, selama perbedaan kelas ada maka agama tetap ada. Marx percaya bahwa agama adalah perangkap yang diapasang kelas penguasa untuk mejerat kelas pekerja, bila perbedaan kelas itu hilang, agama dengan sendirinya akan lenyap. Marx secara terang-terangan bermusuhan dengan lembaga-lembaga keagamaan.
Marx beranggapan bahwa sifat khayalan dari agama di ukur dengan latar belakang historis dari keterasingan. Manusia primitif terasing dari alam dan pengasingannya diungkapkan dengan bentuk ‘agama alamiah’. Dengan meluasnya pembagian kerja yang menghasilkan peningkatan penguasaan alam, kepercayaan keagamaan diuraikan menjadi sistem gagasan yang ‘dirasionalisasikan’ lebih jelas (dalam makna weber) yang mengungkapkan keterasingan-diri dari manusia. Kapitalisme menunjukkan kemampuan manusia menguasai alam; alam semakin dimanusiawikan oleh adanya upaya manusia dalam bidang teknik dan sains – akan tetapi hal ini dicapai dengan sangat meningkatnya keterasingan-diri, yang menjadi pokok kemajuan pembagian kerja yang dirangsang oleh produksi kapitalis. Sifat khayalan dari agama, disini didapatkan dalam fakta bahwa agama itu berfungsi sebagai pengabsahan dari orde sosial yang ada (yang terasingkan) dengan cara peralihan kemampuan-kemampuan manusia yang potensial, akan tetapi tidak direalisasikan kedalam kapitalisme, kesatuan alam semseta mistik.
Menurut Marx, agama itu senantiasa merupakan bentuk dari keterasingan, oleh sebab itu kepercayaan keagamaan melibatkan perkaitan dengan hal-hal yang sungguh-sungguh mistis serta serta mempunyai kemampuan-kemampuan yang dalam kenyataannya dimiliki oleh manusia. Aspek transedensi agama adalah mungkin, oleh karena kepastian dikotomi dan oposisi antara pribadi dan masyarakat juga mungkin. Marx juga berpandangan bahwa suatu bentuk masyarakat bisa bereksistensi, di dalam mana tidak terdapat dikotomi antar pribadi orang dengan masyarakat – dalam kasus solidaritas mekanis.
Perkembangan Marxisme
Marxisme merupakan sebuah paham yang mulai berkembang pada pertengahan abad ke-19. Paham ini adalah kelanjutan dari perkembangan paham sosialisme yang telah berkembang sebelumnya. Seorang pemikir sosialis yang berpengaruh saat itu adalah Karl Marx, ia mengembangkan sebuah gagasan baru sosialisme yang kemudian tumbuh menjadi doktrin sosialisme paling berpengaruh. Doktrin sosialisme Karl Marx kemudian dipopulerkan dengan istilah “Marxisme”.Istilah marxisme sendiri adalah sebutan bagi pembakuan ajaran resmi Karl Marx dan terutama dilakukan oleh temannya Friedrich Engels.
Dalam menjelaskan doktrin Marxisme tersebut, Engels mengajukan thesis bahwa alam menghasilkan sejarah panjang pengalaman dan masyarakat ditentukan oleh hubungan-hubungan ekonomi, produksi, dan pertukaran. Untuk mensistematisasikan gagasan Engels mengenai Marxisme setidaknya dapat ditilik ke dalam tiga pokok pikiran, yaitu pokok pikiran dalam filsafat, sejarah, dan politik. Bersamaan dengan upaya Engels untuk membakukan ajaran Marx, lahir pula kelompok sosialis moderat yang menentang ide-ide Marxisme, yaitu Fabian Society di Inggris (1883-1884). Kelompok ini lebih tertarik dengan cara perjuangan lewat parlemen dan menarik kelompok kelas menengah dalam mencapai tujuan sosialisme. Menurut kaum Fabian, sosialisme perlu diperkaya oleh ilmu-ilmu sosial baru, khususnya ekonomi dan sosiologi dengan mengembangkannya dalam diskursus ilmiah, riset, dan seminar.
Beberapa tahun setelah kematian Marx pada 1883, lahirlah International II sebagai langkah lanjut dari International I. International II menuntut solidaritas seluruh pekerja secara internasional. Upaya ini gagal karena seiring dengan merebaknya ideologi Nasionalisme pada Perang Dunia I (1914) dan pertikaian-pertikaian emosional oleh kalangan sosialis sendiri. Hal tersebut ditandai dengan perdebata di kalangan Marxis seperti Karl Kautsky, Bernstein, Rosa Luxemburg, dan Vladimir Lenin. Perdebatan tersebut berkisar mengenai strategi bagaimana cara mewujudkan cita-cita Karl Marx untuk menciptakan sebuah masyarakat sosialis komunis.
Karl Kautsky sebagai Marxis radikal lebih mendukung perjuangan kelas dengan cara revolusi, namun ia menyadari bahwa peluang tersebut semakin kecil. Kautsky kemudian lebih tertarik kepada analisisnya Engels dan cenderung menggabungakan teori sejarah Marx dengan teori evolusinya Darwin. Dengan demikian berarti sintesis antara determinisme ekonomi dan aktivitas politik revolusioner sebagai ciri khas sejarah Marv berubah menjadi perkembangan kontinu. Interpretasi ini kemudian berpengaruh pada pemikiran baru untuk mengkritisi gagasan orisinil Karl Marx, bahwa dalam perkembangannya ternyata ide-ide Karl Marx sudah tidak relevan dengan kecenderungan yang terjadi dalam masyarakat.
Seiring dengan dinamika baru, sistem Kapitalisme dinilai oleh sebagian kalangan Marxis mampu membenahi diri dan menyesuaikan dengan keadaan-keadaan baru. Dengan pertimbangan demikian maka mulailah muncul inisiatif untuk mengadakan penyesuaian bagi Marxisme terhadap kondisi baru agar sesuai dengan kenyataan yang berkembang. Salah satu tokoh Marxis yang mengusulkan ide ini adalah Eduard Bernstein. Bernstein kemudian menemukan titik lemah basis teori Marx yang meniscayakan cita-cita manusia semata-mata merupakan ungkapan materi atau ekonomi. Bernstein berpendapat bahwa ada satu hal lagi yang dinilai penting yaitu etika. Keberadaan etika ini menurutnya mencirikan sebentuk sosialisme yang bukan sekedar keniscayaan sejarah yang buta melalui perkembangan ekonomi, melainkan hasil dari ciri-ciri moral manusia yang tinggi. Hal tersebut dinilai golongan Marxis Ortodoks sudah keluar dari garis dasar cita-cita Karl Marx.
Pertentangan tersebut dapat tercairkan setelah muncul interpretasi baru tentang Marxisme yang dibawakan oleh Lenin. Menurut Lenin cara-cara yang dilakukan oleh para tokoh Marxis sebelumnya tidak efektif, kemudian ia memilih perjuanan revolusioner melalui sebuah partai yang revolusioner juga. Hal ini berbeda dengan ajaran Karl Marx yang mengandalkan revolusi oleh massa proletar secara spontan. Menurut Lenin revolusi harus diciptakan melalui para ahli intelijen dan kaum intelektual untuk memasukkan kesadaran revolusioner kepada kaum proletar. Wacana baru yang dibawa oleh Lenin tersebut melahirkan aliran baru yang disebut Marxisme-Leninisme. Berdirinya Uni Soviet oleh kaum buruh Bolshevik menyebabkan terpecahnya gerakan buruh internasional.
Setelah kepemimpinan Lenin berakhir, Soviet dipimpin oleh Stalin. Stalin membekukan pemikiran-pemikiran Marx dan Lenin menjadi ideologi resmi Soviet ke dalam Stalinisme. Dalam kondisi tersebut dilakukan stalinisasi di berbagai bidang kehidupan, bahkan sampai bidang akademik. Dalam situasi yang tidak menguntungkan ini menyebabkan diskursus terbuka tentang Marxisme jelas tidak mendapat tempat. Meskipun demikian, upaya penyegaran terhadap Marxisme masih dapat dilakukan di wilayah pinggiran. Para Marxis masih berusaha menghidupkan kembali dan mengkritisi karya-karya. Penggalian ide-ide Marx dalam wacana kritis melahirkan aliran baru Marxisme yaitu neo Marxisme atau Marxisme Kritis. Karena gerakan ini cukup progresif, Moscow mencium keberadaannya. Sebagai akibatnya gerakan ini dilumpuhkan oleh kubu Marxisme ortodoks sehingga Marxisme kritis mengalami stagnasi dan pemudaran.
Dengan peristiwa tersebut aliran kritis gelombang kedua justru muncul ke permukaan. Aliran baru ini berasal dari Frankfurt sehingga populer dengan sebutan Mazhab Frankfurt. Pemikiran kritis Mazhan Frankfurt biasa disebut sebagai teori kritis. Para penganut teori kritis terus melanarkan kritik kepada Stalinisme Soviet dan Fasisme Nazi yang dinilai sebagai rezim totaliter, mengabsahkan penindasan atas masyarakat dengan selubung ideologi sosialisme. Gagasan mazhab ini antara tahun 60-an hingga 70-an memperngaruhi gerakan-gerakan mahasiswa yang tekenal dengan nama The New Left Movement, atau gerakan kiri baru. Dalam perkembangannya gerakan ini berselisih paham mengenai strategi untuk mencapai tujuannya. Gerakan kiri baru ini juga akhirnya terpecah menjadi gerakan yang tidak relevan dengan tujuan semula.
Fridrich Engels adalah orang yang paling berperan dalam mengembangkan ide-ide Karl Marx menjadi doktrin resmi Marxisme. Upaya tersebut telah dilakukan Engels beberapa tahun sebelum Marx meninggal pada tahun 1883, dan baru memperoleh pengaruh setelah Karl Marx meninggal.
Dalam perspektif filsafat, Engels mensistematisasikan materialisme dialektis (dialectical materialism). Materialisme dialektis dijadikan sebagai dasar pengamatannya tentang sejarah perkembangan masyarakat, yang kemudian terformulasi ke dalam materialisme sejarah (historical materialism). Kemudian sudut pandang politik ia menjelaskan pandangan Marx yang mengidealisasikan suatu bentukan masyarakat tak bernegara (stateless society) dalam sebuah masyarakat komunis. Selain itu ia juga mengkritik keberadaan perwakilan-perwakilan politik yang cenderung mengalienasi masyarakat dan mendukung eksistensi kapitalis.
Didirikan di Paris 1889 dan didominasi oleh partai sosialis terbesar Perancis yang didukung oleh Jean Jaurhs, kelompok Jerman oleh Bebel, Engels, dan Kautsky, kemudian Rusia oleh Plekanov.
Lenin berhasil melakukan revolusi Oktober 1917 bersama kaum Bolshevik yang kemudian mendirikan Republik Sosialis Uni Soviet (USSR).
Sayap kiri yang diwakili oleh kelompok komunis radikal pro-Soviet, kelompok ini memperteguh diri dengan deternimisme ekonomi Marxis yang digabungkan dengan doktrin Leninisme. Kemudian sayap kanan diwakili oleh kelompok moderat anti Soviet yang tergabung dalam partai-partai sosial demokrat, d mana partai ini dalam perkembangannya semakin kehilangan sifat marxisnya.
Neo Marxisme atau Marxisme kritis merupakan serangkaian upaya yang dilakukan oleh para Marxis untuk menyegarkan kembali pemikiran filosofis Karl Marx yang telah dibekukan menjadi alat ideologis di tangan Partai Komunis Uni Soviet.
Tokoh-tokoh yang mengusung mazhab ini diantaranya adalah Horkheimer, Ardono, Marcuse, Lowenthal dan Pollock. Semuanya berasal dari Institut Penelitian Sosial, didirikan pada tahun 1923 di Frankfurt.
Comments
Post a Comment