Skip to main content

Kolonialisme Inggris di Afrika (Bagian 3)

Reaksi dan Perubahan yang Terjadi Akibat Pelaksanaan Politik Kolonial Inggris di Afrika.
  • Reaksi di Afrika Barat
Nigeria adalah salah satu wilayah yang ada di Afrika Barat yang terdiri dari orang-orang Hausa, Ibo dan Yoruba. Masyarakat ini beragama Islam dan masih bersifat konservatif terutama pada negara-negara barat. Dengan sistem pemerintahan yang Aristokrasi dan sudah tertata dengan baik. Terdapat juga suku-suku yang lainya dengan kehidupan yang tidak terlalu baik.

Setelah pemerintah Inggris menguasai daerah ini dan mengantinya dengan pemerintahan Royal Niger Compeny (1 Januari 1900) dengan penguasanya Sir Lugard. Banyak polimik yang terjadi akibat hal ini salah satunya adalah pemberontakan yang dipimpin oleh ”Mahdi” terjadi pada tahun 1906 pemberontakan ini terjadi di Satiru 15 mil dari Sakoto, pemberontakan ini terjadi akibat dari penolakan atas sistem pemerintahan baru yang dilakukan oleh Inggris dengan menjadikan Emir baru sebagai kepala suku.

Setelah berada di bawah kekuasaan Inggris bidang pendidikan mulai di perhatikan daerah selatan lebih maju bidang pendidikanya dari pada daerah utara. Banyak di antara pemuda-pemuda dikirim ke negara-negara barat untuk belajar lebih mendalam lagi, maka munculah generasi baru yaitu generasi kaum terpelajar yang mulai mengenal gagasan-gagasan politik, dan bentuk-bentuk revolusi baik sosial maupun politik. Dari pengetahuan inilah maka para kaum terpelajar mulai melakukan berbagai reaksi terhadap pemerintahan kolonial dan sistem sosial yang masih dipertahankan oleh para kepala-kepala pemerintahan tradisional di daerah-daerah.

Tidak hanya kaum terpelajar yang mengiginkan terjadinya perubahan tetapi dari kaum tentara Afrika. Sedangkan didaerah Nigeria selatan dan daerah koloni Gold Coast penduduknya mengiginkan perubahan yang radikal terhadap kekuasaan kolonial dan kaum tradisional, gerakan nasional di Nigeria Selatan dipimpin oleh Dr. Azikiwe, pergolakan-pergolakan pun tidak dapat dihindari baik yang dilakukan oleh kelompok buruh, pers dalam kelompok lainya yang mementang koloni. Pertentangan juga muncul dari kelas menegah profesional dan dari pihak radikal sejak tahun 1930. kedua pihak ini bekerja sama dalam hal menentang pemerintahan kolonial yang pada awalnya kedua kelompok ini saling bertentangan. Kelompok profesional mengiginkan adanya pergantian di dalam pemerintahan dari orang-orang kulit putih, sedangkan kaum radikal mengiginkan adanya perombakan sosial. Kerjasama juga terjadi di antara orang-orang Creol di koloni dengan penduduk pribumi untuk kemerdekaan negara mereka.
  • Reaksi dan perubahan di Afrika Selatan
Reaksi di Afrika selatan dimulai pada saat terjadinya masalah Khama. Masalah ini terjadi dikalangan suku Bamangwate pada tahun 1948. Khamal adalah seorang kepala suku yang menikahi gadis dari Inggris. Perkawinan ini menimbulkan reaksi dikalangan petinggi suku, wakil dari kepala suku (Tsekadi) sendiri tidak menyetujui pernikahan ini karena mereka sangat tidak menyukai orang-orang Inggris. Terjadi perdebatan yang panjang mengenai hal ini sidang pun tidak terhindari masalah ini baru dapat diselesaikan pada saat sidang ketiga kalinya. Barulah Seretse (kepala suku) dapat diakui bersama istrinya. Pada tahun 1966 Bechuanaland memperoleh kemerdikaan dengan Sir Seretse Khama sebagai presiden pertamanya.

Di daerah Basutoland pertentangan terjadi antara kelumpok komisi (1954), kelompok politisi dan Paramount Chief. Kaum politisi perhatianya lebih kepada pembentukan dewan Legislatif sedangkan pihak komisi tidak pernah membahas masalah tersebut sedangkan di pihak Paramount Chief tibmul kekawatiran akian pengaruh mereka yang semakin berkurtang. Dibandingkan daerah Swaziland dan daerah Bechuanaland, pendidikan di daerah Basutoland yang paling maju. Dan tingkat kesadaran Nasionalismenya sudah sangat kuat oleh sebab itu maka selalu terjadi pertentangan terhadap masalah pengabungan daerah mereka dengan Uni Afrika Selatan.
  • Reaksi dan perubahan yang terjadi di Afrika Tengah
Pertentangan di daerah ini tidak kalah serunya dengan pertentangan yang terjadi diberbagai daerah lainya di Afrika. Masalahnya hampir sama disetiap daerah yaitu masalah pengakuan dan hak yang sama antara kaum koloni dan masyarakat pribumu. Masyarakat pribumi menolak terjadinya pengabungan daerah mereka seperti yang dialami di daerah Rhodesia selatan dan Afrika selatan. Jumlah penduduk dikota semakin banyak maka pada tahun 1940 sejummlah 15.000 pekerja tambang Nkana dan Mufilira melakukan pemogokan kerja, dan dilanjutkan dengan pemogokan kerja dilingkungan perkereta apian.

Pada saat pemerintahan Afrika Selatan resmi melaksanakan politik Aparthaidnya 1948, penduduk pribumi Rhodesia Utara semakin menentang kekuasaan kulit putih di negerinya. Sedangkan masyarakat di Afrikaner di Rodesia Utara dan Selatan mengharapkan pengabungkan dengan Uni Afrika Selatan. Di daerah Rhodesia Utara perserikatan buruh semakin maju dan berusaha membentuk kekuaatan di Afrika Tengah dengan cara menggabungkan Rhodesia Utara, selatan dan Nyesaland menjadi satu Federasi.

Keadaan protektorat Nyasaland tidak sama dengan daerah lainya di Afrika tengah, masyarakat mereka sedikit dan banyak kerja di luar daerah. Tokoh terkemuka di daerah ini adalah Dr. Hasting Banda. Ia mengusulkan agar di Nyasaland dibentuk sebuah kongres Nyasaland yang terbentuk pada 1944 Afrika Nasional Congres. Dengan tuntutannya memajukan kedudukan sosial-ekonomi dan menentang diskriminasi ras. Dr. Banda juga mengusulkan pembentukan federasi untuk masyarakat pribumi dan federasi Rhodesia dan Nyasaland mulai berlaku pada bulan September 1953.

  • Reaksi dan Perubahan yang Terjadi di Afrika Timur dan Utara
Afrika Timur berpenduduk multirasial dengan masyarakat berganda. Penduduk Afrika Timur Inggris terdiri atas orang-orang Hitam, Putih dan Asia. Selain orang Hitam dan Putih di daerah Afrika ini juga terdapat masyarakan Hindu yang nantinya memiliki peranan penting di pemerintahan. Mereka bekerja sebagai tukang kayu, ahli mesin, pegawai Kereta Api dan pedagang-pedagang. Masuknya pendidikan barat ke daerah Timur membuat banyak masyarakat pribumu menjadi maju dan berkembang dengan baik.

Uganda berkembang menjadi negara Afrika yang dimana orang-orang kulit Hitamnya mempunyai kekuasaan basar, bertolak belakang dengan daerah Kenya yang orang-orang kulit hitamya terdesak oleh orang-orang kulit putih. Setelah perjanjian yang dilakukan oleh Inggris dan Jerman tentang perbatasan daerah kekuasaan Uganda menjadi semakin besar. Pada tahun 1900 dicapai persetujuan Uganda Inggris dan pemerintahan Buganda yang berisi tentang pengakuan terhadap Kabakan sebagai penguasa Konstitusionil dinegerinya. Namun Kabakan harus berjanji untuk bekerjasama secara loyal kepada pemerintah Inggris.

Kabakan Daudi Chwa memerintah sampai 1939 Dan kemudian diganti oleh anaknya Kabakan Frederick Mutase II. Pada tahun 1953 raja Buganda menuntut kemerdekaan atas negerinya Karena penduduk Buganda menolak adanya dua tuan yang menguasai pemerintahan. Reaksi nasionalisme di Uganda mulai muncul setelah terjadi perang dunua II dan di Afrika secara umum. Atas banyaknya tuntutan yang diberikan oleh para kaum pribumu dan penduduk Afrika lainya maka dikeluarkanlah White paper yang mengatakan bahwa Kenya adalah daerah Afrika maka kepentingan penduduk Afrika harus didahulukan selain itu juga kepentingan masyarakat lain yang non Afrika.

Peristiwa Mau-Mau (1953) adalah peristiwa besar yang sulit dilupakan oleh penduduk Eropa yang pada saat itu berada di Kenya. Peristiwa ini terjadi pada saat penyerangan yang dilakukun oleh para gerelia Mau Mau terhadap para penduduk dan petani putih yang berada didaerah pertanian terpencil di Kenya. Gerakan ini mengahiri pengaruh Eropa yang menanjak dan juga berpengaruh terhadap pemerintah Inggris, yang kemudian semakin memberikan perhatian yang penuh terhadap Kenya. Gerakan Mau Mau ini juga memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan pergerakan di Afrika.

Gerakan berikutnya adalah gerakan Kenya Afrika Union dibawah pimpinan Jomo Kenyatta yang bersifat anti terhadap Eropa. Gerakan ini menerbitkan selebarab, Kenya, land of Conflict. Berisi suatu peringatan yang menyatakan apabila kaum kolonis putih tidak meniggalkan Kenya, maka di Kenya akan terjadi revolusi. Tahun 1947 Kenyatta terpilih sebagai ketua Kenya Afrikca Union. Yang kemudian gigih berjuang melawan dominasi barat. Pada tahun 1952 ia dan lima orang pengikutnya dipenjara akibat tuduhan terlibat dalam peristiwa Mau Mau. Setelah bebas ia melnjutkan perjuangannya kembali dengan cara mencontoh gerakan Ghandi di India yang tidak mengunakan kekerasan.

Di Tangayika masyarakat non Afrika lebih besar dari pada penduduk pribumi. Tetapi pihak Inggris melaksanakan prinsip Inderct rule. Dengan membiarkan kepala-kepala daerah pribumi tetap berkuasa. Di tahun 1949 Gubernur merancang pemerintahan baru dengan memperluas keanggotaan dewan legeslatifnya tahun 1955. Masing-masing ras memiliki jumlah wakil yang sama di lembaga ini. Tetapi Tangayika tetap ingin mendapatkan pemerintahan sendiri. Tokoh utamanya adalah Julius Nyarere pemimpin Tangayika Afrika Nasional Union. Mei 1961 Tangayika mendapatkan hak mengatur pemerintahan kedalam dan pada bulan Desember mendapatkan kemerdekan. Di Afrika Utara pengaruh Inggris sangat besar terutama didaerah Masir dan Sudan Sejak kekuasaan Arabi dapat dipatahkan dalam perang Tel-el-Kebir.

Dalam memerintahnya di tanah Mesir, pemerintahan Inggris mendapatkan berbagai macam kesulitan, salah satunya adalah dalam hal ekonomi. kepemimpin di Mesir dipercayakan kepada Cromer. Untuk mengatasi masalah ekonominya ia melakukan penghematan pembiayaan pendidikan, gaji aperatur pemerintahanya dan pengurangan tenaga kerja di dalam depertemen pemerintahanya. Masalah social-ekonomin ini menyebabkan keadaan penduduk secara umum menyedihkan, oleh sebab itu kecurigaan penduduk terhadap orang asing semakin tebal Terlebih setelah kekuasaan Lord Cromer yang tidak hanya berperan sebagai pengatur keuangan Mesir tetapi juga sebagai pengemudi pemerintahan yang notabenenya masih secara resmi dipegang oleh Khadivi kerajaan Mesir.

Pertentangan awalnya dilakukan oleh tokoh-tokoh Mesir untuk menentang kekuasaan Cromer, diantara tokoh-tokoh ini adalah Pedana Mentri Nurban Pasha dan Riaz pasha. tokoh-tokoh ini memang merasa penting kekuasaan Inggris di daerahnya untuk menjamin keamanan negerinya. Tetapi yang di sesalkan adalah keadaan de fakto bahwa admimistrasi pemerintahan tidak dipegang oleh bangsanya sendiri. Untuk waktu yang lama Inggris tetap berkuasa di Mesir. Dan pada tahun 1922 Mesir memperoleh kemerdekaan, akan tetapi kemerdekaan ini tidak penuh, karena urusan pertahanan, komunikasi dan Sudan masih dipegang oleh Inggris.

Baru pada tahun 1936 kemerdekaan Mesir di dapatkan secara penuh setelah Inggris meninggalkan Cairo. Tetapi kota Cairo tetap menjadi tempat Inggris dan Amerika selama perang berlangsung. Setelah perang usai Mesir menjadi daerah yang sangat berkembang dan kota Cairo menjadi kota terbesar di Afrika. Tapi Inggris sendiri belum secara penuh meninggalkan Mesir. Penduduk pun membuat partai yang dikenal dengan nama partai Wafd dibawah pimpinan Zaghlul Pasha merupakan perintis revolusi masa melawan Inggris.

Kebencian masyarakat terhadap sikap bertele-tele Inggris menyebabkan masyarakat Mesir semakin tidak sebar untuk mengusir kekuasaan Inggris dari Mesir. Kehidupan yang korup dikalangan istana menambah ketidakpuasan dikalangan opsir-opsir muda Mesir. Setelah terjadi bentrok antara tentara Inggris dan polisi Mesir di zone terussan, timbulah keributan di Cairo pada permulaan tahun 1952. Kemudian diikuti oleh pergolakan Coup d’ etad yang dipimpin oleh colonel Nasser. Raja dipaksa meletakan jabatan dan jendral Nagib menjadi Presiden merangkap Pedana Menteri. Setelah mengalami beberapa kali Kemerdekaan Mesir baru benar-benar mardeka pada tanggal 1 Januari 1956. Hal yang serius dihadapi kemudian adalah masalah pemersatuan daerah Sudan sebagai bangsa yang utuh. Antara Sudan Utara yang berpenduduk Arab dan beragama Islam dangan daerah Selatan yang penduduk Negro non Muslim.
  • Reaksi Dunia Internasional
Dalam hal ini, tidak terlalu tampak reaksi dari masyarakat internasional karena daerah Afrika sendiri telah terbagi-bagi sesuai dengan negara-negara Eropa yang mendudukinya. Seperti Jerman dan Francis. Antara negara-negara Eropa ini telah memiliki wilayah masing-masing di Afrika. Agar daerah jajahan dari masing-masing negara Eropa tidak saling klem, maka dilakukan beberapa kesepakatan diantaranya perjanjian Inggris dan Prancis 1898tentang tapal batas daerah-daerah utara dan barat Gold Coastyang berbatasan dengan wilayah milik Prancis. Dan ada pula perjanjian Jerman dan Inggris tahun 1899 yang bersepakan untuk menentukan batas-batas timur dan utara Gold Coast yang berbatasan dengan daerah Togo milik Jerman.

Jadi perjanjian-perjanjian inilah yang membuat negara-negara Eropa yang berada di Afrika dapat hidup dengan damai karena telah memiliki daerah jajahan masing-masing. Setalah terjadinya perang dunia II, daerah-daerah di Afrika menjadi semakin maju karena negara-negara Eropa yang ada disana semakin memberikan perhatian yang penuh terhadat daerah-daerah koloninya. Dan pengaruh perang dunia II jugalah yang memberikan dorongan tersendiri kepada berbagai kaum nasionalis di Afrika untuk semakin gencar menyuarakan rasa nasionalismenya.

Kembali ke bagian satu
Kembali ke bagian dua

Comments

Popular posts from this blog

Historiografi Asia Selatan

Ilustrasi Peninggalan Sejarah di India Perkembangan histiografi di Asia selatan dapat dibagi dalam dua periode yakni tradisional dan modern. Pada masa historiografi tradisional sumber-sumber kesusasteraan masih sangat kental. Semisal dengan ada banyaknya cerita cerita epik ataupun kitab kitab yang menceritakan kisah raja raja. Sedangkan dalam historiografi modern lebih mengarah ke India hal ini dikarenakan India merupakan yang paling mengesankan dalam kuantitas atau kualitasnya. Serta india berkembang dengan pesat dibandingkan dengan wilayah lain seperti pakistan, sri lanka atau bangladesh  Historiografi Tradisional Masa sebelum masuknya agama Islam ke India  Kebudayaan pertama di asia selatan adalah kebudayaan mohenjodaro dan harappa. Dari penggalian reruntuhan bekas lokasi kebudayaan ini ditemukan bahwa kebudayaan ini memiliki tingkat kemajuan yang cukup tinggi. Dimana tata kota sudah diatur sedemikian rupa dengan adanya pengaturan kapling rumah, pemand...

Kota Tegal Dalam Sejarah

Raden Dewi Sartika

Potret Raden Ayu Dewi Sartika. source: wikimedia.org Salah satu tokoh yang memiliki peranan penting dalam pergerakan nasional indonesia adalah Dewi Sartika. Bisa dikatakan peran yang dimainkan oleh Dewi Sartika tidak kalah penting dengan Kartini. Meskipun sama sama berjuang membela hak perempuan namun terdapat beberapa perbedaan antara Kartini dan Dewi Sartika. Itulah yang membuat perjuangan Dewi Sartika memiliki makna tersendiri bagi perempuan perempuan Indonesia. Dewi Sartika merupakan salah satu tokoh pelopor dalam hal pendidikan untuk kaum perempuan. Dewi Sartika lahir di Bandung 4 Desember 1884. Orang tua Dewi Sartika adalah salah satu priyayi di tanah sunda, Raden Somanegara dan Nyi Raden raja Permas. Sejak kecil Dewi Sartika sudah mendapatkan pendidikan barat dari asisten residen Cicalengka. Tempat dimana pamannya bupati Martanegara berkedudukan. Tidak hanya belajar, Dewi Sartika sejak kecil juga sudah mulai mengajar teman teman sebayanya segalaa hal yang dia pelajari...