Dengan ketinggian puncak mencapai 3432 mdpl, gunung Slamet menjadi gunung tertinggi ke-dua di pulau Jawa. Sedangkan di tataran gunung gunung di Jawa tengah, gunung Slamet merupakan gunung tertinggi. Gunung Slamet masih berstatus sebagai gunung berapi yang aktif. Aktifitas vulkaniknya masih terus berlangsung hingga sekarang. Aktifitas yang paling terlihat tentu saja semburan belerang di kawahnya. Selain belerang, sumber air panas yang ada di kaki gunung ini juga menandakan bahwa gunung ini masih beraktifitas.
Gunung Slamet terletak di lima wilayah administrasi, Tegal, Pemalang, Purbalingga, Banyumas dan Brebes. Masing masing daerah memiliki jalur pendakian tersendiri dengan puncak tersendiri. Gunung Slamet memiliki tipe gunung khas gunung gunung di Jawa Barat. Dengan hutan yang lebat di sepanjang jalur pendakian dan minimnya padang sabana. Hampir seluruh jalur pendakian tertutup hutan tebal, hanya terdapat sedikit trek terbuka. Tapi sayangnya puncak dari jalur Guci bukanlah top puncak. Top puncak adalah dari jalur pendakian Bambangan dan Kaligua.
Jika hendak memilih jalur guci sebagai jalur pendakian kita bisa langsung menuju objek wisata Guci sebagai base camp. Berikut beberapa alternatif transportasi menuju Guci.
- Jika menggunakan kendaraan pribadi terutama mobil dari arah Jakarta/Bandung, bisa melalui jalan tol Pejagan-Pemalang, keluar di exit Kalimati. Dari Exit Kalimati tinggal mengarah ke arah selatan di jalan Raya Tegal-Purwokerto. Setelah sampai di pertigaan Yomani, ambil arah ke arah selatan. Dari pertigaan Yomani tinggal meneruskan perjalanan ke arah Guci, tanpa belok-belok lagi. Plang jalan cukup banyak tersedia dan jelas.
- Jika menggunakan kendaraan pribadi dari arah Semarang/Jawa Timur, bisa melalui tol Pemalang-Pejagan, keluar di exit Kalimati. Dari Exit Kalimati tinggal mengarah ke arah selatan di jalan Raya Tegal-Purwokerto. Setelah sampai di pertigaan Yomani, ambil arah ke arah selatan. Dari pertigaan Yomani tinggal meneruskan perjalanan ke arah Guci, tanpa belok-belok lagi. Plang jalan cukup banyak tersedia dan jelas. Atau bisa melalui jalur alternatif dengan melewati Pemalang. Dari Pemalang ambil arah ke selatan ke arah Randudongkal. Di pertigaan Randudongkal belok kanan ke arah Moga. Sampai di Moga ada pertigaan lagi, ambil arah kanan ke arah Guci lewat jl Guci-Moga.
- Jika menggunakan kendaraan pribadi dari arah Purwokerto/Wonosobo/Jogja bisa menggunakan jalur tengah. Dari Jogjakarta ke arah Magelang-Purworejo-Wonosobo via Borobudur, dilanjutkan ke arah Banjarnegara-Purbalingga-Pulosari. Di Pulosari sehabis kantor kecamatan Pulosari belok kiri ke arah Karangsari-Moga-Guci.
- Jika menggunakan kendaraan umum dari Jakarta/Bandung/Semarang carilah jurusan Tegal. Jika menggunakan Kereta Api turun di Stasiun Tegal, naik angkot kuning depan stasiun ke arah Slawi. Dari Slawi cari angkot jurusan Slawi-Guci, biasa ngetem di pertigaan M.Yamin dekat komplek Ruko Slawi/stasiun Slawi. Perlu diperhatikan angkot Guci-Slawi jumlahnya sangat jarang, usahakan sampai di Slawi pagi hari, sore/malam sudah gak ada. Jika di Slawi sudah tidak ada angkot, segera menuju ke pertigaan Yomani saja. Dari sini bisa mencari angkutan baik angkot/elep/mobil bak menuju Guci. Jika menggunakan Bus juga sama, turun di Terminal Tegal atau sekalian ke Pertigaan Pasifik lalu cari elf jurusan Tegal-Bumiayu, turun di Yomani. Dari Yomani bisa meneruskan perjalanan ke Guci. Jika hendak carter mobil/angkutan baiknya start dari Yomani.
Sesampainya di base camp langsung melapor ke petugas jaga yang berkantor di sebelah hotel Duta Wisata. Tidak ada perijinan resmi, hanya pendataan dan lapor identitas kepada perhutani. Untuk hal teknis diharuskan lapor ke Galas (gabungan pecinta alam Slamet). Setelah mengurus perijinan barulah kita bisa segera melanjutkan perjalanan. Jalur awal pendakian berada di sebelah lokasi Bumi perkemahan Guci. Di sini terdapat saluran air bersih yang digunakan untuk kebutuhan sehari hari warga. Di sebelah timur buper terdapat pancuran air yang biasanya digunakan pendaki sebagai perbekalan.
Baca Juga: Catatan Pendakian Gunung Merbabu
Perjalanan dari jalur awal pendakian hingga pos V yang merupakan pos terakhir membutuhkan waktu sekitar 7-10 jam (tergantung kemampuan pendaki). Medan yang dijumpai pada saat pendakian didominasi oleh kawasan hutan cemara, dan pinus. Hingga pos terakhir jalur pendakian masih lebat ditumbuhi tumbuhan. Sumber mata air baru bisa ditemui lagi di pos IV. Sedang di lereng sebenarnya terdapat satu sumber air, namun keberadaan air sangat fluktuatif, kadang ada kadang tidak ada.
Dari Guci menuju pos 1 memerlukan waktu sekitar 1 jam. Jalur mulanya berupa jalur khusus mobil offroad bebatuan. Kemudian mulai masuk hutan karet yang banyak disadap penduduk sekitar. Ssetelah melewati hutan karet mulai masuk ke hutan pinus. Pos 1 diberi nama pos pondok pinus. Bentuk pos hanya berupa tanah datar kecil tanpa ada bangunan.
Dari pos 1 menuju pos 2 memerlukan waktu sekitar 2-3 jam. Merupakan jalan paling panjang dibanding dngan pos yang lain. Selepas pos 1 jalur pendakian didominasi hutan lebat dengan jarak pohon cukup rapat. Hati hati dengan persimpangan yang merupakan jalur penduduk pencari burung. Tetap ikuti jalur yang benar, biasanya ada tanda pita atau rafia.
Dari pos 2 menuju pos 3 jalur tidak terlalu panjang, hanya butuh waktu sekitar 1 jam perjalanan. Sedangkan dari pos 3 menuju pos 4 memerlukan waktu 2 jam. Dari pos 4 menuju pos 5 (pos pelawangan) memerlukan waktu sekitar 2 jam. Jalur dari pos 4 menuju pos 5 merupakan jalur yang cukup berat. Beberapa kali harus melewati pohon tumbang, menerobos di sela sela akar pohon. sampai merangkak di bawah batang pohon yang tumbang. (asik pokoknya)
Untuk lokasi pendirian tenda bisa memilih tempat di lembah Edelweis. Berada di antara pos iv dan pos v. Namun tempat untuk mendirikan tenda paling baik adalah di pos v. Di pos ini sudah terdapat banyak tanah datar yang bagus untuk pendirian tenda. Dari lokasi camping ke puncak diperlukan waktu sekitar 3 sampai 4 jam. Tapi sayangnya di puncak Guci tidak bisa melihat sunrise. Hal ini dikarenakan pemandangan ke timur ditutupi oleh puncak sebelah timur yang lebih tinggi. (puncak bambangan)
Yang perlu diperhatikan adalah aktifitas belerang di kawah Slamet. Biasanya pendakian ke puncak hanya dibatasi sampai jam 10 siang. Di atas jam itu asap belerang sudah keluar dan bisa mengganggu pernafasan kita. Seandainya sebelum pukul 10 atau 11 belum sampai puncak lebih baik tidak usah memaksakan diri untuk bisa sampai ke puncak. bisa kembali lagi sore hari melihat sunset, dengan catatan aktifitas belerang sudah berhenti.
Selain lewat jalur Guci sebenarnya masih terdapat jalur pendakian lainnya. bisa lewat objek wisata Baturaden dengan curug pitu, atau lewat Bambangan yang merupakan pos resmi. Atau bisa juga lewat Kaligua. Tinggal menyesuaikan saja, jalur guci relatif paling mudah diantara yang lain, kekurangannya pemandangan di puncak tidak leluasa karena hanya tersedia pemandangan ke arah antara utara dan barat. Sedang jalur Baturaden dikenal dengan treknya yang masih alami. Belum terdapat pos di jalur pendakian Baturaden. Sedang jalur Bambangan adalah jalur pendakian yang resmi. Jalur Kaligua adalah jalur 'keras' dengan medan yang terjal dan kemiringan yang tinggi. Silahkan buat pilihan sendiri, sementara baru tersedia catper untuk jalur Guci. Ke depannya akn diusahakan untuk mengisi informasi seluruh jalur pendakian Slamet.
Yang perlu diperhatikan ketika mendaki gunung Slamet dari jalur Guci adalah stamina. Hal ini dikarenakan jalur trek yang panjang. Rata-rata dari basecamp hingga pelawangan memerlukan waktu 8-12 jam tergantung masing masing pendaki. Perbekalan air juga penting diperhatikan, jangan sampai kehabisan air di tengah perjalanan, karena tidak ada sumber air. Tetapi jika kehabisan air, bisa mencoba mencari sumber air di sekitar pos 4, dari pos 4 berjalan turun ke arah kiri (tetapi tetap hati-hati jangan sampai nyasar). Yang perlu diperhatikan juga adalah asap belerang, jika menemui asap belerang yang semakin banyak di tengah perjalanan, sebaiknya segera turun.
Untuk menjadi perhatian pula, jalur Guci memiliki puncak yang paling rendah diantara semua jalur. Jadi ketika kita sudah sampai di puncak, akan terlihat dinding tinggi di kejauhan yang merupakan puncak Bambangan dan Puncak Baturaden.
Comments
Post a Comment