Pada masa kolonial Tegal merupakan salah satu kota yang dijadikan Kantor bagi pemerintah Kolonial Belanda. Selain Loji dan kantor Residen, dibangun juga Benteng dan Pelabuhan serta Stasiun. Kantor pemerintah kolonial ini terutama mengawasi hasil pertanian tebu dan perkebunan teh yang merupakan salah satu komoditas utama Tegal. komoditas tebu berpusat di Pangkah di mana pabrik gula pangkah berada. Sedang perkebunan teh terletak di daerah Bojong dan Bumijawa yang terletak di dataran tinggi.
Lokasi Tegal sangat strategis jika dilihat dari posisi Tegal yang terletak diantara jalur penghubung Cirebon - Semarang maupan Batavia - Surabaya. Tegal juga merupakan pintu masuk dari jalur pantai utara menuju daerah-daerah di selatan pulau Jawa seperti Purwokerto, Cilacap, maupun Kebumen. Hal inilah yang membuat pemerintah kolonial memperhatikan betul pembangunan infrastruktur di Tegal. pembangunan inilah yang kemudian memiicu perkembangan ekonomi dan sosial di daerah tegal.
Sekitar tahun 1900-an pembangunan di Tegal mencapai puncaknya. Salah satu yang cukup mencolok adalah pembangnan kantor pusat SCS. Stasiun Tegal yang mulai dibangun pada tahun 1885 sebagai stasiun trem JSM (Java Spoorweg Maatschappij). Pada 1897 JSM dibeli oleh maskapai perkeretaapian SCS (Semarang Cheribon Stoomtram-maatschappij) kemudian stasiun dilengkapi dengan atap besar berbahan kayu yang mampu mengatapi 3 sepur. Pada tahun 1918 bagian stasiun yang termasuk dalam rancangan tahun 1885 direnovasi berdasarkan karya arsitek Henricus Maclaine Pont.
Perusahaan SCS merupakan perusahaan perkeretaapian yang memegang trayek jalur kereta api Cirebon Semarang Purwokerto. Tegal dipilih sebagai kantor pusat sebab Tegal terletak di tengah-tengah ketiga kota tersebut. Pemilihan tegal sebagai kantor pusat SCS membuat Tegal semakin ramai. Arus mobilisasi dari dan menuju Tegal kian mudah. Sebagai akibatnya, kriminalisasi juga semakin banyak. Dari hal ini pemerintah kolonial membangun sebuah penjara yang terletak di sebelah selatan kantor dan rumah Residen.
Bangunan penjara ini berbentuk seperti sebuah Loji dengan dinding yang kuat dan tebal. Dengan penjagaan yang ketat oleh petugas jaga, serta sel-sel yang terbuat dari besi. Penjara ini sebagai tempat eksekusi maupun penahanan bagi mereka yang telah didakwa oleh pengadilan pemerintah kolonial. Sisa-sisa dari bangunan penjara ini sudah tidak ada, sebagai gantinya, diatasnya dibangun bangunan Belanda lainnya yang kemudian dijadikan gedung kantor pos pada masa orde baru.
Pelabuhan Tegal terletak di sebelah utara kantor Residen Tegal. Meskipun bukan merupakan pelabuhan yang besar, namun pelabuhan Tegal cukup ramai. Tidak hanya disinggahi para nelayan, Pelabuhan ini juga digunakan sebagai transit bagi mereka yang sedang melakaukan perjalalan menuju semarang maupun Batavia. Hingga saat ini keadaan pelabuhan Tegal masih relatif sama seperti pada masa pertama kali dibangun. Hanya saja, pelabuhan ini tidak lagi difungsikan untuk bersandar kapal-kapal besar. Pelabuhan ini hanya digunakan untuk bersandar kapal-kapal nelayan kecil pencari ikan
.
.
Tegal memiliki dua balai kota yang dijadikan pusat pemerintahan. Balaikota untuk pemerintaha Kota Tegal dan wilayah Kadipaten adalah Balai Kota Ki Gede Sebayu yang terletak di samping alun-alun Tegal. sedangkan Balaikota untuk pemerintahan kolonial Belanda terletak di samping pelabuhan Tegal. Hingga saat ini kedua bangunan ini masih berdiri dan berfungsi dengan baik.
Hubungan antaretnis terutama etnis China dan Arab serta Jawa di Tegal relatif tidak terlalu banyak terjadi konflik. Masing-masing etnis relatif memiliki toleransi yang tinggi terhadap etnis yang lain. Terlebih tidak ada sentimen perkonomi seperti yang terjadi pada etnis China. Persaingan dagang antara etnis China dengan etnis Arab maupun Jawa tidak terjadi, sebab masing-masing memiliki spesialisasi dagang tersendiri.
Persaingan yang terjadi kebanyakan hanya berkutat pada monopoli dagang Belanda yang dinilai merugikan pedagang lain terutama dari pedagang China dan Arab. Dalam beberapa kasus, pedagang China melakukan penjualan gelap opium yang ditukar dengan beras dan palawija dari petani Tegal. Sedangkan pedagang Arab menjual kain dengan diam-diam yang dilakukan di pelabuhan Tegal.
| source: tirto.id |
Bentuk kerukunan dan toleransi bisa dilihat lewat perayaan imlek di masyarakat etnis China. Tradisi yang telah diilakukan semenjak masa kolonial ini selalu mendapat sambutan meriah dari masyarakat Tegal bahkan hingga saat ini. Hal yang sama berlaku saat perayaan pawai Maulud yang diadakan oleh etnis Arab dan Jawa. Saat digelarnya perayaan, maka etnis yang lain ikut membantu dan ikut mendukung kesuksesan acara.
Hal ini bahkan bisa disaksikan hingga saat ini. Di mana perayaan-perayaan yang ada di Tegal selalu semarak tanpa memandang etnis mana yang mereka yang merayakan perayaan. Masyarakat Tegal merupakan masyarakat yang berbudaya. Tidak hanya dalam hal kreasi seni budaya, namun juga tersirat pada perilaku sehari-hari dari masyarakat Tegal yang diterapkan hingga saat ini.


Comments
Post a Comment