Skip to main content

Tegal dalam Bingkai Sejarah Part 2


Kota yang namanya berarti dataran atau lembah ini, mencakup lahan seluas 18 km2 dan dipotong oleh jaringan jalan pedati sepanjang 23 km. Di sepanjang tiga sisinya, Tegal memiliki batas-batas alami yaitu di bagian utara Laut Jawa menjadi batas, di bagian barat dan timur batasnya dibentuk dengan sungai Ketiwon dan Sibeh. Tegal terletak di persimpangan jalan raya utama yang menghubungkan Jawa Barat dan Jawa Timur di pantai utara serta jalan yang membentang dari pantai utara ke pantai selatan (Banyumas). Kota ini menjadi persimpangan lalu-lintas yang penting. Banyak jalur darat menghubungkan Alat transportasi yang utama di Tegal adalah Trem yang menghubungkan wilayah Cirebon dan Semarang. Baru pada tahun 1885 penggunaan kereta api mulai ramai dengan dibangunnya stasiun Tegal. 

Masyarakat yang mendiami daerah Tegal diantaranya adalah masyarakat pribumi asli yang merupakan penduduk asli Tegal, ada pula etnis China yang kebanyakan tinggal di daerah pecinan yang terletak di daerah Kemuning. Masyarakat etnis arab bermukim di daerah Pekauman dan Panggung yang terletak di sebelah barat Alun-alun kota Tegal. sedangan mayarakat Eropa tinggal di daerah Slerok dan Kejambon, Tegal timur di sebelah selatan stasiun Tegal. Sementara warga pribumi kebanyakan tinggal di luar daerah tersebut, seperti di pesisir pantai sebelah barat.

Secara demografi, jumlah penduduk di wilayah Tegal dapat dilihat pada tahun 1815, saat Raffles memegang kekuasaan di Jawa. Adapun populasi totalnya adalah 15.808 jiwa dengan perincian 7.185 laki-laki, 8.623 perempuan. Adapun klasifikasi penduduk wilayah Tegal berdasarkan mata pencahariannya 2/3 adalah petani sisanya pekerja rumah tangga non petani.. 

Mayoritas masyarakat Tegal pada masa ini merupakan Petani dan Pedagang. Juga terdapat beberapa pengrajin logam dan kulit serta kayu di beberapa daerah. Tegal dikenal dengan komoditas padi yang banyak ditanam di daerah Lebaksiu. Komoditas Tebu berpusat di Pangkah. Sedangkan Teh banyak terdapat di wilayah Bojong dan Bumijawa. Semua komoditas ini kemudian dijual di pusat kota Tegal serta dikirim ke daerah luar terutama Semarang.

Perkembangan Tegal tidak bisa dilepaskan dari etnis China. Etnis china pada masa ini sudah mampu mendirikan sekolah sendiri. Yakni T.H.H.K. Sekolah T.H.H.K merupakan kepanjangan dari Tiong Hoa Hwee Kwan atau Rumah Perkumpulan Tionghoa, THHK adalah sebuah organisasi yang didirikan tanggal 17 Maret 1900 oleh beberapa tokoh keturunan Tionghoa di Batavia. Tujuan utama para pendirinya adalah untuk mendorong orang Tionghoa yang bermukim di Indonesia untuk mengenal identitasnya.

Kegiatan utama THHK antara lain membangun dan membina sekolah berbahasa Mandarin. Yang paling terkenal adalah THHK Batavia (Bahoa) dan THHK Tegal (Zehoa). Sekolah T.H.H.K Tegal didirikan pada tanggal 20 Agustus tahun 1906 atas jasa Liem Kwat Hoey beserta rekan sejawatnya. Dari mulai berdirinya hingga 16 tahun kemudian sekolah ini dipimpin oleh sdr. Liem Siao Gie. Tahun 1915 sekolah dipindah dari jalan Benteng ke jalan Petjinan Selatan atau dulu disebut Blok 5.

Tahun 1928 dilakukan penggabungan murid perempuan dan laki-laki. Tahun 1929 didirikan sekolah Chuchung. Tahun 1931 dicoba dibuka kelas Kao Chung, namun kemudian ditutup karena animo masyarakat kurang. Taman Kanak-Kanak didirikan tahun 1936. Sekolah miskin yang dulunya didirikan oleh Shiong Tih Hui oleh karena perkumpulan tersebut sudah mapan, maka tahun 1942 lalu diambil oper oleh T.H.H.K. Waktu itu T.H.H.K masih dalam lingkungan C.H.T.H

Setelah kaum penjajah Jepang takluk minat sekolah anak muda sangat besar sehingga gedung lama terasa sempit. Atas kedermawanan Liem Goan Ho dengan usaha dagangnya “Liem Gran Kwie” ia memberikan tanah seluas 20.000 meter persegi yang letaknya di jalan Kalianjar pada tahun 1946. Pada tahun 1948 dibuka kelas Kaochung. Tanggal 5 Mei 1912 didirikan sekolah THHK di Banjaran. Hingga saat ini sisa-sisa bangunan dari sekolah ini dapat ditemui di sekitar daerah Kelenteng Hang Ek Bio.

Sedangkan masyarakat etnis Arab lebih memusatkan pendidikan anak-anaknya di pesantren yang banyak tersebar di daerah Panggung. Panggung merupakan salah satu daerah yang memiliki penduduk keturunan etnis Arab pada masa itu. Selain Panggung, pesantran yang cukup dikenal di kalangan masyarakat etnis Arab adalah Ketitang di daerah Talang. Sekitar 5 kilometer dar pusat kota Tegal. Serta pesantren Giren di Tegal wangi.

Masyarakat Eropa membangun sendiri komplek sekolah yang terletak di daerah Tegal timur dekat dengan Stasiun Tegal. Selain menjadi kantor bagi pegawai stasiun dan pegawai maskapai SCS, kawasan ini juga dibangun sekolah khusus untuk masyarakat Belanda. Hingga saat ini, bangunan rumah dan sekolah masih bisa ditemui terutama di jalan Tentara Pelajar. Rumah yang dulunya merupakan bangunan Belanda beralih fungsi menjadi rumah dinas PT KAI.

Untuk birokrat pemerintah kolonial, tinggal di sebelah barat kantor residen dan Benteng Tegal. wilayah ini merupakan kawasan elite di mana terdapat banyak rumah-rumah megah dan besar yang masih berdiri hingga saat ini. Kompleks perumahan Belanda ini berbatasan dengan komplek tempat tinggal etnis China.

Comments

Popular posts from this blog

Historiografi Asia Selatan

Ilustrasi Peninggalan Sejarah di India Perkembangan histiografi di Asia selatan dapat dibagi dalam dua periode yakni tradisional dan modern. Pada masa historiografi tradisional sumber-sumber kesusasteraan masih sangat kental. Semisal dengan ada banyaknya cerita cerita epik ataupun kitab kitab yang menceritakan kisah raja raja. Sedangkan dalam historiografi modern lebih mengarah ke India hal ini dikarenakan India merupakan yang paling mengesankan dalam kuantitas atau kualitasnya. Serta india berkembang dengan pesat dibandingkan dengan wilayah lain seperti pakistan, sri lanka atau bangladesh  Historiografi Tradisional Masa sebelum masuknya agama Islam ke India  Kebudayaan pertama di asia selatan adalah kebudayaan mohenjodaro dan harappa. Dari penggalian reruntuhan bekas lokasi kebudayaan ini ditemukan bahwa kebudayaan ini memiliki tingkat kemajuan yang cukup tinggi. Dimana tata kota sudah diatur sedemikian rupa dengan adanya pengaturan kapling rumah, pemand...

Kota Tegal Dalam Sejarah

Raden Dewi Sartika

Potret Raden Ayu Dewi Sartika. source: wikimedia.org Salah satu tokoh yang memiliki peranan penting dalam pergerakan nasional indonesia adalah Dewi Sartika. Bisa dikatakan peran yang dimainkan oleh Dewi Sartika tidak kalah penting dengan Kartini. Meskipun sama sama berjuang membela hak perempuan namun terdapat beberapa perbedaan antara Kartini dan Dewi Sartika. Itulah yang membuat perjuangan Dewi Sartika memiliki makna tersendiri bagi perempuan perempuan Indonesia. Dewi Sartika merupakan salah satu tokoh pelopor dalam hal pendidikan untuk kaum perempuan. Dewi Sartika lahir di Bandung 4 Desember 1884. Orang tua Dewi Sartika adalah salah satu priyayi di tanah sunda, Raden Somanegara dan Nyi Raden raja Permas. Sejak kecil Dewi Sartika sudah mendapatkan pendidikan barat dari asisten residen Cicalengka. Tempat dimana pamannya bupati Martanegara berkedudukan. Tidak hanya belajar, Dewi Sartika sejak kecil juga sudah mulai mengajar teman teman sebayanya segalaa hal yang dia pelajari...