Skip to main content

Masa Muda Hok Gie

Artwork Soe Hok Gie
Selepas SMA, Hok Gie mengikuti tes masuk perguruan tinggi di Universitas Indonesia. Ia mengambil pilihan dan diterima di jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia angkatan 1961. Kakak Hok Gie juga diterima di UI, mengambil jurusan Psikologi di Fakultas Psikologi UI. Kampus Fakultas Sastra saat itu terletak di daerah Rawamangun. Di kampus ini Hok Gie dikenal luas sebagai aktivis di senat mahasiswa, aktif menyelenggerakan diskusi-diskusi di kampus, pemimpin aksi demonstrasi era 1966, penggiat kegiatan-kegiatan pecinta alam yang tergabung dalam Mapala UI dan berbagai aktivitas lainnya. 

Di luar kampus Hok Gie sempat mengikuti berbagai organisasi seperti Gerakan Mahasiswa Sosialis dan Gerakan Pembaruan, keduanya berada di bawah naungan Partai Sosialis Indonesia. Hok Gie juga masuk jajaran pemimpin Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa (LPKB) yang mengupayakan asimilasi keturunan etnis cina. Di dalam kampus Hok Gie aktif di senat mahasiswa FSUI dan sempat menjadi ketua senat mahasiswa pada tahun 1967, dan menjadi salah satu pendiri Grup Diskusi UI Juli 1968. Ia juga sempat membantu mengembangkan Radio UI, stasiun radio milik Universitas Indonesia yang dikelola secara mandiri oleh mahasiswa dari berbagai jurusan. 

Hok Gie merupakan salah satu sosok yang vokal menyuarakan protes dan kritik terhadap pemerintahan Soekarno ketika masih berkuasa. Hok Gie terutama mengkritisi kondisi ekonomi dan kesejahteraan rakyat yang tidak diperhatikan pemerintah. Dalam catatan hariannya Hok Gie kerap menuliskan tentang perilaku penguasa yang kerap berfoya-foya tanpa memikirkan kondisi rakyat yang sengsara. Hok Gie sempat melakukan demonstrasi memprotes pelarangan Partai Sosialis Indonesia oleh Soekarno. Hok Gie juga kerap mengkritik menteri-menteri kabinet yang kinerjanya mengecewakan. 

Pasca peristiwa G30S Hok Gie ikut bergerak menyuarakan tiga tuntutan rakyat bersama rekan-rekannya dari FSUI. Keadaan ekonomi yang semakin parah menggugah mahasiswa untuk turun ke jalan memperjuangkan perubahan. Di berbagai kampus, termasuk di UI mulai terbentuk kesatuan-kesatuan aksi. Dari kesatuan-kesatuan aksi ini terbentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang secara massal melakukan aksi demonstrasi menuntut agar perubahan segera dilakukan oleh Soekarno. Pada Januari 1966 aksi mahasiswa ini semakin besar, berawal dari rapat di FKUI aksi mahasiswa bergerak untuk menuntut perubahan. 

Aksi demonstrasi mahasiswa 1966 berhasil menurunkan Presiden Soekarno. Turunnya Soekarno memang tidak bisa lepas dari tindakan Soeharto dan sikap yang diambil militer pada masa itu. Dalam aksi demonstrasi tritura, militer cenderung berpihak kepada mahasiswa dengan cara tetap menjaga keadaan dan keamanan, namun tidak menghalangi aksi demonstrasi mahasiswa. Hok Gie sendiri menjalin komunikasi yang baik dengan militer, sehingga tidak terjadi bentrok antara mahaiswa dan militer. Hok Gie merupakan sosok yang pada saat itu bisa mengkomunikasikan antara gerakan mahasiswa dan kekuatan militer.

Trivia
Grup Diskusi UI merupakan kelompok diskusi mahasiswa UI lintas fakultas yang memiliki persamaan pandangan tentang reputasi universitas yang sedang dipertaruhkan karena ulah beberapa pemimpin mahasiswa yang menempatkan kepentingan kelompoknya di atas kepentingan mahasiswa yang lebih luas. GDUI berperan sebagai benteng intelektualitas universitas yang menentang adanya campur tangan pihak luar/organisasi ekstra universitas dalam kehidupan berorganisasi di kampus. . 

Dalam catatan harian 10 Desember 1959 Hok Gie menceritakan tentang seorang (bukan pemgemis) yang memakan sisa makanan dari tempat sampah. Bagi Hok Gie peristiwa ini begitu mengecewakan sebab Hok Gie menganggap bahwa pemerintah Soekarno yang berkuasa saat itu telah gagal dalam menjamin kesehjateraan rakyat. Alih-alih berjuang demi kesehjateraan, para pemimpin bangsa justru kerap berpesta dan berfoya-foya. 

Bersama kakaknya, Hok Gie mengikuti demonstrasi menuntut Soekarno agar segera mencabut pelarangan terhadap PSI dan Manikebu tahun 1964. 

Pada tanggal 11 Maret Presiden Soekarno akhirnya memberikan surat kuasa kepada Soeharto untuk mengambil kewenangan terkait upaya menjaga keamanan di Jakarta. Supersemar yang diberikan Soekarno kepada Soeharto sebagai kewenangan untuk melakukan tindakan menjaga keamanan dan stabilitas negara, digunakan untuk mengambil kebijakan penting seperti keputusan pelarangan PKI, dan tindakan-tindakan lain yang melemahkan posisi politik pemerintahan orde lama. 

Pada saat demonstrasi 1966 meletus, Hok Gie banyak melakukan komunikasi dengan ABRI. Diantaranya dengan KASKODAM Witono. Komunikasi dimaksdukan agar dalam aksi demonstrasi tetap terjaga ketertiban dan keamanan, menghindarkan aksi dari perbuatan merusak dan anarkis yang bisa berakibat fatal.

Comments

Popular posts from this blog

Historiografi Asia Selatan

Ilustrasi Peninggalan Sejarah di India Perkembangan histiografi di Asia selatan dapat dibagi dalam dua periode yakni tradisional dan modern. Pada masa historiografi tradisional sumber-sumber kesusasteraan masih sangat kental. Semisal dengan ada banyaknya cerita cerita epik ataupun kitab kitab yang menceritakan kisah raja raja. Sedangkan dalam historiografi modern lebih mengarah ke India hal ini dikarenakan India merupakan yang paling mengesankan dalam kuantitas atau kualitasnya. Serta india berkembang dengan pesat dibandingkan dengan wilayah lain seperti pakistan, sri lanka atau bangladesh  Historiografi Tradisional Masa sebelum masuknya agama Islam ke India  Kebudayaan pertama di asia selatan adalah kebudayaan mohenjodaro dan harappa. Dari penggalian reruntuhan bekas lokasi kebudayaan ini ditemukan bahwa kebudayaan ini memiliki tingkat kemajuan yang cukup tinggi. Dimana tata kota sudah diatur sedemikian rupa dengan adanya pengaturan kapling rumah, pemand...

Kota Tegal Dalam Sejarah

Raden Dewi Sartika

Potret Raden Ayu Dewi Sartika. source: wikimedia.org Salah satu tokoh yang memiliki peranan penting dalam pergerakan nasional indonesia adalah Dewi Sartika. Bisa dikatakan peran yang dimainkan oleh Dewi Sartika tidak kalah penting dengan Kartini. Meskipun sama sama berjuang membela hak perempuan namun terdapat beberapa perbedaan antara Kartini dan Dewi Sartika. Itulah yang membuat perjuangan Dewi Sartika memiliki makna tersendiri bagi perempuan perempuan Indonesia. Dewi Sartika merupakan salah satu tokoh pelopor dalam hal pendidikan untuk kaum perempuan. Dewi Sartika lahir di Bandung 4 Desember 1884. Orang tua Dewi Sartika adalah salah satu priyayi di tanah sunda, Raden Somanegara dan Nyi Raden raja Permas. Sejak kecil Dewi Sartika sudah mendapatkan pendidikan barat dari asisten residen Cicalengka. Tempat dimana pamannya bupati Martanegara berkedudukan. Tidak hanya belajar, Dewi Sartika sejak kecil juga sudah mulai mengajar teman teman sebayanya segalaa hal yang dia pelajari...