Skip to main content

Masa Kecil Hok Gie

Art Work Soe Hok Gie
Soe Hok Gie lahir tanggal 17 Desember 1942 di Jakarta. Merujuk pada catatan hariannya, Ia lahir di tengah perang dunia tengah berkecamuk di front Pasifik. Hok Gie lahir dari pasangan Soe Lie Pet alias Salam Sutrawan dan Nio Hoe An alias Maria Sugiri. Soe Lie Pet lahir 20 Februari 1904 di Batavia sedangkan Nio Hoe An lahir 1907 di Bandung. Keduanya dinikahkan setelah dijodohkan oleh keluarga masing-masing.Keluarga Hok Gie sempat berpindah tempat tinggal di Bandung dan Denpasar, sebelum akhirnya memutuskan menetap di Jakarta menjelang kelahiran Hok Gie akhir tahun 1942.

Soe Lie Pet merupakan penulis dan redaktur berbagai surat kabar seperti Tjin Po, Panorama, Hwa Po, Liberty, Hong Po, Kung Yung Po, Min Pao dan terakhir menjadi redaktur harian Sadar. Tidak hanya penulis dan redaktur di berbagai harian, dia juga seorang penulis buku yang cukup produktif. Produktivitasnya bisa dilihat dari beberapa buku yang pernah diterbitkan diantaranya Tjerita Roman dan Penghidupan: Berita dari Telaga Tiba (1928) Ular yang Tjantik (1929), Djadi Pandita (1934), Lejak (1935), Dimana Adanya Allah? (1940) dan Gadis Kolot (1941) Ibu Hok Gie, Nio Hoe An adalah seorang ibu rumah tangga, berasal dari Bandung.

Nama Soe Hok Gie diambil dari dialek Hokkian. Leluhur Hok Gie berasal dari kepulauan Hainan provinsi Hainan di bagian selatan Republik Rakyat Cina, yang bermigrasi ke Batavia sekitar tahun 1870. Hok Gie merupakan anak ke empat dari lima bersaudara. Saudara perempuan Hok Gie bernama Soe Lian Hiang alias Dien Pranata, Soe Lian Eng alias Mona Sugiri dan Soe Lian Sian alias Jeanne Sumual, sedangkan kakak laki-lakinya bernama Soe Hok Djin alias Arief Budiman. Selisih usia Hok Gie dan Hok Djin hanya dua tahun, tetapi hubungan keduanya sempat kurang harmonis dan tidak saling sapa selama beberapa tahun. Keduanya baru kembali saling sapa saat sama-sama menjadi mahasiswa di UI. 

Hok Gie dan keluarga tinggal di pemukiman multi etnis di kawasan Bilangan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Keluarga Hok Gie tinggal di rumah sewa milik Tuan Abdullah Bey, seorang peranakan Arab terkemuka di lingkungan tersebut. Rumah Hok Gie sederhana, hampir seluruhnya terbuat dari kayu dan dibangun satu meter lebih tinggi untuk mengantisipasi banjir. Tidak jauh dari rumah Hok Gie terdapat pemukiman semi permanen yang kebanyakan terbuat dari bambu. Pemukiman ini ditempati perantauan dari luar daerah yang datang ke Jakarta.

Soe Hok Gie masuk sekolah dasar Hsin Hwa, sekolah khusus keturunan etnis Cina pada umur 5 tahun. Dari Hsin Hwa School Ia sempat pindah ke SR Gang Komandan.[5] Selepas tamat sekolah dasar lalu melanjutkan sekolah di SMP Strada di bawah asuhan Broeder Khatolik. Menyelesaikan SMP pada tahun 1958, Hok Gie kemudian melanjutkan sekolah menengah atas di SMA Kanisius Jakarta. Di Kanisius Hok Gie memilih jurusan ilmu sastra, sedang kakaknya Hok Djien memilih jurusan ilmu alam. Hok Gie menyelesaikan masa studi di SMA pada September 1961 bersamaan dengan kakaknya, Hok Djin. 

Trivia
Pada masa sebelum Soe Hok Gie dan kakanya Soe Hok Djin memasuki sekolah menengah, kerap terjadi perselisihan-perselisihan yang berawal dari hal sepele. Perselisihan ini lambat laun menjadi pertengkaran yang semakin sering terjadi. Puncaknya hubungan keduanya memburuk kemudian saling mendiamkan selama beberapa tahun akibat pertengkaran yang hebat.

Sebagian besar tetangga di dekat rumah Hok Gie merupakan pedagang kecil dari desa-desa yang membawa barang dagangan untuk dijual di pasar Kaligot, Sawah Besar. Terdapat pula orang betawi yang sudah lama tinggal di lingkungan ini. 

Sekolah Rakyat Gang Komandan merupakan sekolah negeri yang terletak di sebuah gang bernama gang komandan. Penamaan SR tersebut diambil dari lokasi tempat SR tersebut berada. Ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk mendirikan sekolah dasar negeri, Ibu Hok Gie langsung memindahkan anak-anaknya ke sekolah negeri. Di SR ini Hok Gie dan Hok Djien masuk di kelas yang sama meskipun keduanya berselisih dua tahun. 

Menginjak kelas 2 di SMP Strada prestasi Hok Gie mulai buruk, dia kerap mendapat nilai yang jelek di beberapa pelajaran. Sekolah memaksanya untuk mengulang masa belajarnya di kelas dua, namun, Hok Gie menolak dengan alasan nilai jeleknya disebabkan oleh ketidakadilan yang diterimanya dari guru di SMP Strada. Dia kemudian memilih bersekolah di SMP Kristen Protestan di Jalan Pembangunan III yang mengizinkannya masuk ke kelas tiga SMP tanpa harus mengulang seperti di SMP Strada. 

Comments

Popular posts from this blog

Historiografi Asia Selatan

Ilustrasi Peninggalan Sejarah di India Perkembangan histiografi di Asia selatan dapat dibagi dalam dua periode yakni tradisional dan modern. Pada masa historiografi tradisional sumber-sumber kesusasteraan masih sangat kental. Semisal dengan ada banyaknya cerita cerita epik ataupun kitab kitab yang menceritakan kisah raja raja. Sedangkan dalam historiografi modern lebih mengarah ke India hal ini dikarenakan India merupakan yang paling mengesankan dalam kuantitas atau kualitasnya. Serta india berkembang dengan pesat dibandingkan dengan wilayah lain seperti pakistan, sri lanka atau bangladesh  Historiografi Tradisional Masa sebelum masuknya agama Islam ke India  Kebudayaan pertama di asia selatan adalah kebudayaan mohenjodaro dan harappa. Dari penggalian reruntuhan bekas lokasi kebudayaan ini ditemukan bahwa kebudayaan ini memiliki tingkat kemajuan yang cukup tinggi. Dimana tata kota sudah diatur sedemikian rupa dengan adanya pengaturan kapling rumah, pemand...

Kota Tegal Dalam Sejarah

Raden Dewi Sartika

Potret Raden Ayu Dewi Sartika. source: wikimedia.org Salah satu tokoh yang memiliki peranan penting dalam pergerakan nasional indonesia adalah Dewi Sartika. Bisa dikatakan peran yang dimainkan oleh Dewi Sartika tidak kalah penting dengan Kartini. Meskipun sama sama berjuang membela hak perempuan namun terdapat beberapa perbedaan antara Kartini dan Dewi Sartika. Itulah yang membuat perjuangan Dewi Sartika memiliki makna tersendiri bagi perempuan perempuan Indonesia. Dewi Sartika merupakan salah satu tokoh pelopor dalam hal pendidikan untuk kaum perempuan. Dewi Sartika lahir di Bandung 4 Desember 1884. Orang tua Dewi Sartika adalah salah satu priyayi di tanah sunda, Raden Somanegara dan Nyi Raden raja Permas. Sejak kecil Dewi Sartika sudah mendapatkan pendidikan barat dari asisten residen Cicalengka. Tempat dimana pamannya bupati Martanegara berkedudukan. Tidak hanya belajar, Dewi Sartika sejak kecil juga sudah mulai mengajar teman teman sebayanya segalaa hal yang dia pelajari...