![]() |
| Art Work Soe Hok Gie |
Soe Lie Pet merupakan penulis dan redaktur berbagai surat kabar seperti Tjin Po, Panorama, Hwa Po, Liberty, Hong Po, Kung Yung Po, Min Pao dan terakhir menjadi redaktur harian Sadar. Tidak hanya penulis dan redaktur di berbagai harian, dia juga seorang penulis buku yang cukup produktif. Produktivitasnya bisa dilihat dari beberapa buku yang pernah diterbitkan diantaranya Tjerita Roman dan Penghidupan: Berita dari Telaga Tiba (1928) Ular yang Tjantik (1929), Djadi Pandita (1934), Lejak (1935), Dimana Adanya Allah? (1940) dan Gadis Kolot (1941) Ibu Hok Gie, Nio Hoe An adalah seorang ibu rumah tangga, berasal dari Bandung.
Nama Soe Hok Gie diambil dari dialek Hokkian. Leluhur Hok Gie berasal dari kepulauan Hainan provinsi Hainan di bagian selatan Republik Rakyat Cina, yang bermigrasi ke Batavia sekitar tahun 1870. Hok Gie merupakan anak ke empat dari lima bersaudara. Saudara perempuan Hok Gie bernama Soe Lian Hiang alias Dien Pranata, Soe Lian Eng alias Mona Sugiri dan Soe Lian Sian alias Jeanne Sumual, sedangkan kakak laki-lakinya bernama Soe Hok Djin alias Arief Budiman. Selisih usia Hok Gie dan Hok Djin hanya dua tahun, tetapi hubungan keduanya sempat kurang harmonis dan tidak saling sapa selama beberapa tahun. Keduanya baru kembali saling sapa saat sama-sama menjadi mahasiswa di UI.
Hok Gie dan keluarga tinggal di pemukiman multi etnis di kawasan Bilangan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Keluarga Hok Gie tinggal di rumah sewa milik Tuan Abdullah Bey, seorang peranakan Arab terkemuka di lingkungan tersebut. Rumah Hok Gie sederhana, hampir seluruhnya terbuat dari kayu dan dibangun satu meter lebih tinggi untuk mengantisipasi banjir. Tidak jauh dari rumah Hok Gie terdapat pemukiman semi permanen yang kebanyakan terbuat dari bambu. Pemukiman ini ditempati perantauan dari luar daerah yang datang ke Jakarta.
Soe Hok Gie masuk sekolah dasar Hsin Hwa, sekolah khusus keturunan etnis Cina pada umur 5 tahun. Dari Hsin Hwa School Ia sempat pindah ke SR Gang Komandan.[5] Selepas tamat sekolah dasar lalu melanjutkan sekolah di SMP Strada di bawah asuhan Broeder Khatolik. Menyelesaikan SMP pada tahun 1958, Hok Gie kemudian melanjutkan sekolah menengah atas di SMA Kanisius Jakarta. Di Kanisius Hok Gie memilih jurusan ilmu sastra, sedang kakaknya Hok Djien memilih jurusan ilmu alam. Hok Gie menyelesaikan masa studi di SMA pada September 1961 bersamaan dengan kakaknya, Hok Djin.
Trivia
Pada masa sebelum Soe Hok Gie dan kakanya Soe Hok Djin memasuki sekolah menengah, kerap terjadi perselisihan-perselisihan yang berawal dari hal sepele. Perselisihan ini lambat laun menjadi pertengkaran yang semakin sering terjadi. Puncaknya hubungan keduanya memburuk kemudian saling mendiamkan selama beberapa tahun akibat pertengkaran yang hebat.
Pada masa sebelum Soe Hok Gie dan kakanya Soe Hok Djin memasuki sekolah menengah, kerap terjadi perselisihan-perselisihan yang berawal dari hal sepele. Perselisihan ini lambat laun menjadi pertengkaran yang semakin sering terjadi. Puncaknya hubungan keduanya memburuk kemudian saling mendiamkan selama beberapa tahun akibat pertengkaran yang hebat.
Sebagian besar tetangga di dekat rumah Hok Gie merupakan pedagang kecil dari desa-desa yang membawa barang dagangan untuk dijual di pasar Kaligot, Sawah Besar. Terdapat pula orang betawi yang sudah lama tinggal di lingkungan ini.
Sekolah Rakyat Gang Komandan merupakan sekolah negeri yang terletak di sebuah gang bernama gang komandan. Penamaan SR tersebut diambil dari lokasi tempat SR tersebut berada. Ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk mendirikan sekolah dasar negeri, Ibu Hok Gie langsung memindahkan anak-anaknya ke sekolah negeri. Di SR ini Hok Gie dan Hok Djien masuk di kelas yang sama meskipun keduanya berselisih dua tahun.
Menginjak kelas 2 di SMP Strada prestasi Hok Gie mulai buruk, dia kerap mendapat nilai yang jelek di beberapa pelajaran. Sekolah memaksanya untuk mengulang masa belajarnya di kelas dua, namun, Hok Gie menolak dengan alasan nilai jeleknya disebabkan oleh ketidakadilan yang diterimanya dari guru di SMP Strada. Dia kemudian memilih bersekolah di SMP Kristen Protestan di Jalan Pembangunan III yang mengizinkannya masuk ke kelas tiga SMP tanpa harus mengulang seperti di SMP Strada.

Comments
Post a Comment