Skip to main content

Maritim dalam Bingkai Sejarah (2)

Sejarah Maritim di Indonesia sebenarnya sudah dimulai sejak zaman Manusia Purba dimana nenek moyang bangsa ini datang menyeberangi laut untuk menetap ke kepulauan-kepulauan di Indonesia. Namun disini lingkup bahasannya kami persempit di masa kerajaan-kerajaan. 

Sriwijaya 
Kerajaan Sriwijaya pada dasarnya merupakan suatu kerajaan-pantai, sebuah negara perniagaan dan negara yang berkuasa dilaut.Kekuasaannya lebihdisebabkan oleh perdagangan internasional melalui Selat Malaka. Dengan demikian berhubungan dengan jalur perdagangan internasional dari Asia Timur keAsia Barat dan Eropa yang sejak paling sedikit lima belas abad lamanya, mempunyai arti penting dalam sejarah.Sriwijaya memang merupakan pusat perdagangan penting yang pertama pada jalan ini Kemudian diganti oleh tempat-tempat atau kota-kota yang lain dan yang terakhir oleh kota Batavia (sekarangJakarta) dan Singapura. 

Menurut berita Cina, kita dapat menyimpulkan bahwa Sriwijaya adalah salah satu pusat perdagangan antara Asia Tenggara dengan Cina yang terpenting.[7] Sriwijaya adalah kerajaan maritim yang pernah tumbuh menjadi suatu kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara. 

Keberadaan Sriwijaya dapat dilacak dari berita Tionghoa yang menyebutkanbahwa di Sumatra pada abad ke-7 sudah ada beberapa kerajaan antara lain To-lang-po-hwa (Tulangbawang di Sumatra Selatan), Molo-yeu (Melayu di Jambi),Ki-li-p’i-che atau Che lifo-che (Criwijaya). Berita ini diperkuat oleh seorang pendeta Budha dari Tiongkok, bernama I-tsing dalam tahun 671 berangkat dari Kanton ke India. Ia singgah di Sriwijaya selama enam bulan, untuk belajar tatabahasa Sansekerta. Kemudian ia singgah di Malaka selama dua bulan, baru kemudian melanjutkan perjalanan ke India untuk tinggal selama sepuluh tahun.Pada tahun 685 ia kembali ke Sriwijaya dan tinggal selama empat tahun untuk menterjemahkan berbagai kitab suci Budha dari bahasa Sansekerta ke dalam bahasa Tionghoa. Ini membuktikan bahwa betapa pentingnya Sriwijaya sebagaipusat untuk mempelajari Mahayana.[8]

Dari I-Tsing ini dapat kita ketahui bahwa Sriwijaya disamping sebagai pusat perdagangan dan pelayaran juga menjadi pusat kegiatan ilmiah agama Budha. Seorang guru terkenal yang bernama Sakyakirti, pendeta yang hendak ke India dianjurkan untuk lebih dahulu belajar ke Sriwijaya sekitar satu duatahun.[9] MenurutCoedes, dia memandang bahwa ada hubungannya antara perkembangan kerajaan Sriwijaya dengan ekspansi agama Islam dalam periode permulaan. Sebagai akibat dari penaklukan oleh bangsa Arab di Timur-Tengah seperti negeri Arab, Suriah, Mesir dan Mesopotamia, maka jalan laut melalui Asia Selatan menjadi jalan perdagangan biasa yang menggantikan jalan darat.Kerajaan-kerajaan ini menjadi pendorong kemajuan lalu-lintas laut di AsiaTenggara yang maha-besar. Kondisi kemajuan lalu lintas laut ini membuat kerajaan Sriwijaya memperoleh keuntungan cukup besar. 

Kerajaan Melayu di Sumatera 
Dari kitab sejarah dinasti Tang kita menjumpai untuk pertama kalinya pemberitaan tentang datangnya utusan dari daerah Mo-lo-yeu di Cina pada tahun 644 dan 645. Nama Mo-lo-yeu ini mungkin dapat dihubungkan dengan kerajaan Melayu, yang letaknya di Pantai Timur Sumatra dengan pusatnya di sekitar Jambi. Sekitar tahun 672 Masehi I-tsing seorang pendeta Budha dari Cina, dalam perjalanannya dari Kanton menuju India, singgah di She-li-fo-she (Sriwijaya) selama enam bulan untuk belajar tata bahasa Sansekerta. Dari She-li-fo-she It-sing berlayar ke Melayu dengan menggunakan kapal raja.Ia tinggal di Melayu selama dua bulan. Selanjutnya ia berlayar ke Kedah selama lima belas hari. Pada bulan ke-12 ia meninggalkan Kedah menuju ke Nalanda, ia berlayar selama dua bulan. Ketika kembali dari Nalanda pada tahun 685, It-sing singgah lagi di Kedah. Kemudian pada musim dingin ia berlayar ke Mo-la-cu yang sekarang telah menjadi Fo-she-to dan tinggal di sini selama pertengahan musim panas, lalu ia berlayar selama satu bulan menuju Kanton. Dari keterangan tadi dapat disimpulkan bahwa sekitar tahun 685 kerajaan Sriwijaya telah mengembangkan kekuasaannya , dan salah satu negara yang berhasil ditaklukkannya adalah Melayu. 

Dari studi tentang pelayaran menyusuri pantai Champa dan Annam menunjukkan adanya beberapa toponim pada pantai-pantai itu yang berasal dari bahasa Melayu.Pendapat ini memperkuat dugaan kita bahwa pelayaran ke negeri Tiongkok dilakukan oleh kapal-kapal dari pelaut-pelaut Melayu. I-Tsing dalam salah satu bukunya yang ia selesaikan antara tahun 690 ada keterangan yang menyatakan bahwa sementara itu Melayu telah menjadi kerajaan Sriwijaya. Sementara itu perdagangan berpindah tempat. 

Mula-mula kedudukan Sriwijaya diganti oleh Malayu (Jambi ), yang juga berkuasa di semenanjung Malaka dan mengirimkan utusan-utusan ke Tiongkok. Akan tetapi Malayu lalu memindahkan pusat kekuasaannya ke daerah pedalaman, yaitu ke Minangkabau, sehingga pengawasan terhadap Selat Malaka.Setelah ditaklukkan Sriwijaya pada tahun 685, nama Melayu menjadi hilang dan baru muncul pada pertengahan terakhir abad ke-13. Di dalam kitab Pararaton dan Nagarakertagama disebutkan bahwa pada tahun 1275 Raja Kertanagera mengirimkan tentaranya ke Melayu.Pengiriman pasukan ini dikenal dengan sebutan Pamalayu. Letak Malayu yang sangat strategis di pantai Timur Sumatera dekat Selat Malaka, memegang peranan penting dalam dunia pelayaran dan perdagangan melalui Selat Malaka yaitu antara India dan Cina dengan beberapadaerah di Indonesia bagian Timur. 

Kerajaan Samudera Pasai 
Penulis Arab yang terkenal yaitu Ibnu Battuta yang antara tahun 1345-1346 menjadi utusan Sultan Delhi Muhammad Tughlak untuk menghadap kaisar Tiongkok. Dalam perjalanannya ke Tiongkok, begitu pula ketika kembalinya, ia singgah di kerajaan Samudra di Sumatra. Kalau kita ikuti catatan dari sumber Arab ini akan dapat diketahui bahwa sejak kira-kira abad ke-8, pedagang Arab sudah mulai mengenal Indonesia, sekurang-kurangnya Indonesia bagian barat seperti Lamuri, Samudra, Badrus, Kedah, dan Sriwijaya. 

Di antara para pedagang Arab itu tentunya adayang menetap di kota tersebut. Apabila di Kanton di tempat yang begitu jauh dan asing, mereka bisa menetap dan membangun masyarakatnya.Tidak mustahilmerekapunada yang menetap di kota-kota pelabuhan di Indonesia. Mereka dapat diketahui berada di Tiongkok berkat adanya kebiasaan orang-orang Tionghoa mencatat secara teliti segala kejadian yang mereka lihat.Kebiasaan semacam itu tidak dimiliki oleh bangasa Indonesia, sehingga tidak ada satupun kemungkinan itu yang dapat kita ketahui.Sebagai akibat dari merosotnya kekuasaan Sriwijaya, di Sumatra Utara muncul beberapa kerajaan maritim kecil. Kerajaan-kerajaan yang terdapat kira-kira tahun 1300 adalah Samudra, Perlak, Paseh dan Lamuri (yang kemudian menjadi Aceh). 

Kerajaan-kerajaan pelabuhan ini kesemuanya mengambil keuntungan dari perdagangan di Selat Malaka. Saudagar yang beragama islam dari India mendatangkan agama Islam, dan Sumatra Utara menjadi daerah islam yang pertama di Indonesia. Berbagai keluarga raja Indonesia satu demi satu masuk agama islam. Prosesnya dipercepat melalui hubungan kekeluargaan dengan saudagar islam tersebut. Di beberapa kerajaan Sumatra Utara agama islam lalu berkuasa. Bukti yang menunjukkan itu adalah adanyanisan Sultan Al Malik as Saleh yang meninggal dalam bulan Ramadhan tahun 1297 Masehi. Ini berarti, bahwa segera sesudah kunjungan Marco Polo, Samudra telah diislamkan, sedangkan yang memerintah adalah orang yang bergelar sultan. 

Dengan Sultan Malik as Saleh maka Samudra adalah kerajaan yang pertama di Indonesia yang beragama Islam. Pada tahun 1297 Sultan pertama itu diganti oleh puteranya, Sultan Muhammad, yang memerintah sampai tahun 1326. Sultan ini lebih terkenal dengan nama Malik al-Thahir. Dari catatan yang ditinggalkan oleh Ibnu Battuta itu, dapat kita ketahui, dewasa itu Samudra merupakan pelabuhan yang sangat penting sebagai tempat kapal dagang bertemu untuk membongkar dan memuat barang dagangannya. 

Istana raja Samudra disusun dan diatur secara India, sedangkan diantara para pembesarnya terdapat pula orang- orang Persia.Adapun Patihnya mempunyai gelar Amir.Sampai tahun berapa Malikal-Thahir ini memerintah, tidak diketahui dengan pasti. Pun penggantinya, Sultan Zain al-Abidin, yang juga bergelar Malik al-Thahir, tidak ada keterangannya. Kita hanya dapat mengetahui namanya sajadari batu nisan yang tersurat di Samudra, yang menghias jirat, kuburan anak perempuannya yang meninggal dalam tahun 1389 

Kerajaan Majapahit 
Menurut Krom, kerajaan Majapahit ini berdasar pada kekuasaan di laut. Laut-laut dan pantai yang terpenting di Indonesia dikuasainya. Jika suatu kerajaan yang kecil menjadi daerah takluk Majapahit, maka pada umumnya pemerintahMajapahit tidak mencampuri keadaan dalam negeri tersebut. Negeri yang takluk ini cukup mengirimkan utusan pada waktu tertentu sebagai tanda takluk serta mengambil sikap yang sesuai dengan kehendak pemerintah Majapahit terhadap negeri Indonesia lainnya. 

Bagian dari kerajaan besar ini yang jauh letaknya cukup dijadikan daerah pengaruh saja. Segala pengaruh asing dalam kerajaan ditolak. Daerah taklukannya diwajibkan menyampaikan upeti atau uang takluk.Jadi, selain sebagai negara agraris, pada waktu yang sama Majapahit jugamerupakan suatu kerajaan perdagangan. Negara ini memiliki angkatan laut yangbesar dan kuat. Pada tahun 1377 mengirim suatu ekspedisi untuk menghukum Raja Palembang dan Sumatra. 

Majapahit juga mempunyai hubungan denganCampa, Kampuchea, Siam Birma bagian Selatan dan Vietnam serta mengirimdutanya ke Cina. Kenang-kenangan tentang kejayaan Majapahit itu masih tetaphidup di Indonesia, dan hal itu dianggap sebagai suatu preseden bagi perbatasanpolitik Republik Indonesia dewasa ini. 

Menurut berita Cina dalam buknya Tao-I chih-lueh yang ditulis sekitar tahun 1349M menyebutkan Majapahit yang dikenal dengan nama She-po (Jawa) sangat padat penduduknya, tanahnya subur dan banyak menghasilkan padi, lada, garam, kain dan burung kakak tua yang semuanya merupakan barang eksport utama. Dari luar She-po mendatangkan mutiara, emas, perak, sutra, barangkeramik dan barang dari besi. Banyak daerah yang mengakui kedaulatan She-poantara lain beberapa daerah di Malaysia, Sumatra, Kalimantan Timur dan beberapa daerah di Indonesia bagian Timur. 

Dalam memperoleh gambaran tentang Majapahit, maka sumber yang relevan untuk dipakai adalah Kitab Nagarakertagama. Dari kitab ini menunjukkan bahwa banyaknya pedagang dari Jambu Dwipa, Kamboja, Cina, Yawana,Champa, Karnataka (Mysore), Goda, dan Siam yang datang ke Majapahit. Dari keterangan itu juga dijelaskan bahwa pedagang Majapahit juga berlayar kepelabuhan di luar negeri tersebut. Penjelasan tentang wilayah kekuasaanMajapahit menyebutkan pula pulau demi pulau di Nusantara yang tunduk padakerajaan Majapahit. Dari pemberitaan tersebut, sekurang-kurangnya kita dapatmenjelaskan bahwa pelayaran sebagai sarana perhubungan antar pulau padawaktu itu sudah dikenal. Ini membuktikan bahwa Majapahit juga merupakan kerajaan Maritim yang cukup kuat dan disegani di Nusantara. 

Perkembangan Maritim Kerajaan Demak 
Secara geografis, Demak memiliki letak yang sangat menguntungkan baik untuk perdagangan maupun pertanian. Pada waktu itu Kerajaan Demak merupakan kerajaan maritim yaitu sebuah kerajaan yang perekonomiannya lebih didasarkan atas sektor perdagangan dan pelayaran. Berdsarkan geo-morfologi bahwa pada abad XV kota Demak berada di tepi pantai dan memiliki pelabuhan yang dikunjungi oleh para pedagang dari berbagai negara. Menurut cerita babad dari Jawa Timur dan Jawa Tengah, pengganti Raden Patah adalah Pangeran Sabrang Lor. Nama itu ternyata berasal dari daerah tempat tinggalnya di seberang utara, yaitu Jepara sebuah daerah yang pada waktu itu masih terpisah oleh sebuah selat dengan Demak. Sementera itu menurut Tome Pires penguasa kedua di Demak adalah Pate Rodim Sr. Dia mempunyai armada laut yang terdiri dari 40 kapal jung. 

Kekuatan Demak terpenting adalah kota pelabuhan Jepara, yang merupakan kekuatan laut terbesar di laut Jawa dan sekaligus juga pemasok beras yang utama ke Malaka. Pada masa Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor, tepatnya tahun 1512 dan 1513, Demak menyerang Malaka yang pada waktu itu dikuasai oleh Portugis dengan menggunakan gabungan seluruh angkatan laut bandar-bandar Jawa, dan Sumatra namun berakhir dengan hancurnya angkatan laut dari Jawa. 

Sejalan dengan perpindahan pusat kekuasaan dari kota Demak ke Pajang dan proses perubahan ekologi di ‘Selat Muria’ yang menempatkan Demak tidak lagi sebagai kota pelabuhan, maka kehidupan maritim Demak menjadi mundur. Fungsi Demak digantikan oleh Jepara hingga VOC mengalihkan kegiatan dagang dari Jepara ke Semarang pada abad XVII. Akibat dari situasi ini, maka pelabuhan laut kota Demak menjadi kurang berarti pada akhir abad ke-16. Namun sebagai produsen beras dan hasil pertanian lain daerah Demak masih lama mempunyai kedudukan penting dalam perekonomian kerajaan Mataram. 

Perkembangan Maritim Kerajaan Banten 
Banten memiliki posisi geografis yang sangat strategis sebagai sebuah kota pelabuhan. Kota Banten yang terletak di ujung bagian Barat pulau Jawa dan berada di pintu Selat Sunda ini dapat dikatakan berfungsi sebagai pintu gerbang barat dari kepulauan Nusantara. Penaklukan Malaka oleh Portugis pada tahun 1511 dapat dikatakan sebagai blessing in disguise bagi Banten. Sejak saat itu, para pedangang Muslim yang sebelumnya biasa berdagang di Malaka memindahkan pusat kegiatan mereka ke Banten yang pada akhirnya menyebabkan Banten berkembang menjadi pelabuhan transito komoditi-komoditi yang diperdagangkan oleh para pedagang Islam. Tome Pires juga pernah datang ke Banten antara tahun 1512-1513. 

Dalam catatannya, Tome Pires menggambarkan Banten sebagai suatu pelabuhan yang ramai. Banyak perahu jung Cina yang berlabuh di tempat tersebut. Disebutkannya komoditi yang diperdagangkan di Banten adalah beras, bahan makanan dan lada. Hubungan antara Banten dengan Demak memang sangat erat. Proses Islamisasi yang dilakukan oleh Sunan Gunung Jati dan putranya dapat berhasil secara baik karena dibantu oleh kekuatan militer dari Demak. Dalam pertengahan abad ke-16 dapat dikatakan bahwa Demak telah dapat menggalang kekuasaan politik yang membentang di sepanjang pantai Jawa bagian Barat yaitu dari Cirebon, Sunda Kelapa hingga ke Banten. 

Perdagangan lada membuat Banten menjadi kota pelabuhan yang penting. Kapal-kapal dagang Cina, India dan Eropa singgah dan berdagang di Banten. Dalam melaksanakan perdagangan, Banten menerapkan sistem perdagangan terbuka. Artinya semua pedagang dari berbagai bangsa dibebaskan untuk berdagang di Banten. Masa kejayaan Banten sebagai pelabuhan pusat perdagangan di bagian Barat Nusantara berlangsung dari pertengahan abad ke-16 hingga menjelang akhir abad ke-17. Puncak kurun niaga yang disebut oleh sejarawan Anthony Reid berlangsung antara tahun 1570 hingga 1630 rupanya bertepatan dengan masa kejayaan Banten sebagai kota palabuhan. 

Selain Banten, salah satu pelabuhan yang ramai aktivitasnya di pulau jawa adalah Cirebon. Perkembangan pelabuhan Cirebon pada masa Islam didorong oleh beberapa faktor antara lain: pertama, Cirebon bertindak sebagai penyedia barang kebutuhan bekal perjalanan kapal. Di samping itu Cirebon juga mengekspor beras ke Malaka sebelum jatuh ke tangan Portugis. Kedua, Cirebon telah menjadi tempat bermukimnya para pedagang besar. Setelah Portugis menguasai Malaka, beberapa pedagang mulai berpindah ke pelabuhan Islam lainnya termasuk Cirebon. 

Sebelum dianeksasi oleh VOC, pelabuhan Cirebon memiliki peranan sebagai pusat perdagangan yang cukup besar. Pelabuhan ini memiliki hubungan dagang dengan Batavia. Arsip-arsip Belanda menginformasikan dengan cukup detail mengenai aktivitas pelabuhan Cirebon dengan Batavia. Barang-barang yang dibongkat di Batavia yang berasal dari Cirebon adalah beras, padi, lada, kayu jati, gula merah, tembakau, minyak kelapa, ikan, garam, bawang merah, bawang putih kelapa, buah pinang, kapas, sapi, kambing, kulit kerbau, kulit rusa, tembikar, rotan, dan sebagainya. Sudah tentu komoditi ini tidak semuanya diproduksi oleh Cirebon tetapi juga berasal dari pelabuhan di sekitarnya seperti Pekalongan dan Tegal dan pelabuhan-pelabuhan di Jawa Timur dan Madura serta dari Palembang. Sebaliknya dari pelabuhan-pelabuhan lain, khususnya dari Batavia, pelabuhan Cirebon mengimpor pakaian, candu, arak, gula putih, porselin, lilin, tembaga, besi tua, panci besi, perunggu Jepang dan sebagainya. 

Perkembangan Maritim Makasar dan Ternate Tidore 
Makasar melakukan pelabuhan utama di Sulawesi Selatan. Letak geografis Makasar yang berada di jalur Maluku Jawa dan jalur masuk kepulauan Nusantara dari utara membuat makasar ramai dikunjungi. Komoditas dagang yang banyak berada di Maluku membuat arus perdagangan laut dari Maluku ke Jawa ramai. Terlebih dengan mulai masuknya pedagang dari Eropa. Lambat laun Makasar menjadi pelabuhan transit yang cukup berkembang kehidupan maritimnya. 

Makasar juga dikenal sebagai masyarakat pelaut yang handal. Suku Bugis merupakan suku pelaut yang mampu berlayar hingga ke Madagascar. Pelayaran menggunakan perahu phinisi mampu melewati lautan luas bahkan mampu melewati samudera. Kemampuan ini didukung oleh kemampuan navigasi dari masyarakat bugis yang sudah canggih dengan menggunakan alam sebagai kompas dalam menentukan arah, serta pengetahuan akan musim dan angin yang baik. 

Ternate Tidore merupakan kerajaan yang ada di kepulauan Maluku. Kerajaan ini merupakan persekutuan dari kerajaan kerajaan kecil yang membentuk semacam persekutuan dengan Ternate dan Tidore sebagai pemimpinnya. Letak kerajaan satu dengan lainnya yang dipisahkan laut menjadikan kerajaan ini bertumpu pada sektor maritim. Tidak hanya hubungan dagang, mobilisasi penduduk juga dilakukan lewat jalur pelayaran. 

Saat kerajaan Ternate dan Tidore diserang oleh Portugis pada tahun 1570, pecah pertempuran antara Portugis dan kerajaan Ternate. Melihat ancaman dari luar, kerajaan Ternate dan Tidore akhirnya bergabung menjadi satu. Bersatunya kerajaan ini membuat kekuatan kerajaan ini semakin besar dalam mempertahankan diri dari serangan bangsa asing. 

Kehidupan maritim di Indonesia mulai surut sejak rezim VOC berkuasa di beberapa daerah di Indonesia. Pembatasan ruang gerak kapal dan monopoli perdagangan membuat banyak kapal-kapal saudagar asing yang sulit untuk berdagang dengan pekaut pribumi. Bahkan akhirnya kehidupan kemaritiman di Nusantara sudah tidak seramai dulu saat masih dalam era kerajaan. 
[7] D. H. Burger,Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia I.(Jakarta: Pradnjaparamita, 1962). Hlm. 26,77.
[8] D.G.E. Hall, Sejarah Asia Tenggara. Surabaya: Usaha Nasional, 1988). Hlm 41.

[9] Lihat B.B. Utomo, ‘Sriwijaya di Palembang sebagai Pusat Agama Buddha’, dalam: M.Faizal Iskandar,Sriwijaya dalam Perspektif Archeologi dan Sejarah(Palembang: PEMDASumatra Selatan, 1993), B7-1 - B7-10. Soekmono,Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia II(Yogyakarta: Kanisius, 1992). Hlm. 37

Comments

Popular posts from this blog

Historiografi Asia Selatan

Ilustrasi Peninggalan Sejarah di India Perkembangan histiografi di Asia selatan dapat dibagi dalam dua periode yakni tradisional dan modern. Pada masa historiografi tradisional sumber-sumber kesusasteraan masih sangat kental. Semisal dengan ada banyaknya cerita cerita epik ataupun kitab kitab yang menceritakan kisah raja raja. Sedangkan dalam historiografi modern lebih mengarah ke India hal ini dikarenakan India merupakan yang paling mengesankan dalam kuantitas atau kualitasnya. Serta india berkembang dengan pesat dibandingkan dengan wilayah lain seperti pakistan, sri lanka atau bangladesh  Historiografi Tradisional Masa sebelum masuknya agama Islam ke India  Kebudayaan pertama di asia selatan adalah kebudayaan mohenjodaro dan harappa. Dari penggalian reruntuhan bekas lokasi kebudayaan ini ditemukan bahwa kebudayaan ini memiliki tingkat kemajuan yang cukup tinggi. Dimana tata kota sudah diatur sedemikian rupa dengan adanya pengaturan kapling rumah, pemand...

Kota Tegal Dalam Sejarah

Raden Dewi Sartika

Potret Raden Ayu Dewi Sartika. source: wikimedia.org Salah satu tokoh yang memiliki peranan penting dalam pergerakan nasional indonesia adalah Dewi Sartika. Bisa dikatakan peran yang dimainkan oleh Dewi Sartika tidak kalah penting dengan Kartini. Meskipun sama sama berjuang membela hak perempuan namun terdapat beberapa perbedaan antara Kartini dan Dewi Sartika. Itulah yang membuat perjuangan Dewi Sartika memiliki makna tersendiri bagi perempuan perempuan Indonesia. Dewi Sartika merupakan salah satu tokoh pelopor dalam hal pendidikan untuk kaum perempuan. Dewi Sartika lahir di Bandung 4 Desember 1884. Orang tua Dewi Sartika adalah salah satu priyayi di tanah sunda, Raden Somanegara dan Nyi Raden raja Permas. Sejak kecil Dewi Sartika sudah mendapatkan pendidikan barat dari asisten residen Cicalengka. Tempat dimana pamannya bupati Martanegara berkedudukan. Tidak hanya belajar, Dewi Sartika sejak kecil juga sudah mulai mengajar teman teman sebayanya segalaa hal yang dia pelajari...