Skip to main content

John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal

Tidak banyak buku yang menyajikan pembahasan mengenai peristiwa G30S 1965, terlebih yang memiliki pembahasan berbeda dengan versi pemerintah. Pada masa Orde Baru, buku-buku yang mencoba membahas peristiwa ini bahkan ada yang dilarang beredar, atau setidaknya mengalami sensor yang sangat ketat. Tidak heran pada masa Orde Baru sangat minim bacaan yang bisa dipergunakan sebagai literatur dalam mempelajari peristiwa G30S 1965 dan peristiwa-peristiwa yang mengikutinya.

Salah satu buku yang bisa digunakan untuk melengkapi literatur dalam mempelajari G30S 1965 adalah buku Dalih Pembunuhan Massal oleh John Roosa. John Roosa adalah seorang Profesor Sejarah dari University of British Columbia, Kanada. Saat ini masih ngantor di Departemen of History, Faculty of Arts, UBC. John memfokuskan studinya pada tema-tema nasionalisme, imperialisme, sejarah lisan, sejarah Asia Tenggara dan permasalahan HAM.

Awal mula John mempelajari tema Peristiwa G30S 1965 adalah keheranannya atas sedikitnya data dan informasi serta pengetahuan masyarakat mengenai peristiwa yang sangat penting dan sangat besar pengaruhnya dalam perkembangan bangsa Indonesia ini. Berawal dari sinilah John mulai mempelajari sejarah Indonesia khususnya Peristiwa G30S 1965 secara lebih mendalam. John sempat menulis beberapa jurnal seperti; The Port of Tuban, a chapter from Pramoedya Ananta Toer’s historical novel Arus Balik, Emergences, vol.10 no.2 2000; Violence and the Soeharto Regime’s Wonderlan, Critical Asian Study, vol.35 page 315-323, 2003; President Soekarno and the September 30th Movement, Indonesia, page 31-49, 2008; Who Knows? Oral History Methods in the Study of the Massacres of 1965-66 in Indonesia, Oral History Forum/ d;histoire orale vol.33, page 1-28, 2013, dan banyak publikasi lainnya.

Karya John Roosa yang paling menarik perhatian adalah buku berjudul Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto’s Coup D’Etat in Indonesia, Madison: University of Wisconsin Press, 2006, yang kemudian dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto, Jakarta: ISSI dan Hasta Mitra, 2007. Buku ini sempat memantik kontroversi ketika Kejaksaan Agung melarang peredaran buku ini di tahun 2009. Upaya pembredelan ini ditanggapi dengan perlawanan John dan rekan-rekannya di Indonesia, melalui tuntutan yang diajukan ke Mahkamah Konstitusi. Pada tahun 2010, MK memutuskan mencabut kewenangan Kejaksaan untuk melarang peredaran buku.

Dalih Pembunuhan Massal sebagai sebuah buku, mungkin tidak bisa mengungkap tabir gelap dibalik peristiwa G30S. Tetapi setidaknya kita disuguhi alternatif dalam mencari variasi literatur tentang peristiwa G30S.

Secara ringkas, buku ini membahas tentang keganjilan-keganjilan narasi Peristiwa G30S 1965 versi Pemerintahan Orde Baru. Keganjilan-keganjilan ini dipadukan dan dimanfaatkan oleh pemerintah pada masa itu sebagai sebuah dalih untuk mengambil kontrol yang lebih besar atas keadaan negara pada saat itu. Lebih-lebih digunakan untuk mengkontrol nasib PKI dan banyak simpatisannya.

Untuk membuktikan hipotesanya, John mencermati berbagai sumber primer baru diantaranya; dokumen Supardjo, wawancara lisan dengan banyak tokoh yang terlibat, dokumen-dokumen internal PKI, beberapa memoar dan dokumen rahasia pemerintah USA yang telah dideclasiffiedkan. John juga menganalisis masing-masing pihak yang memiliki peran dalam peristiwa G30S 1965. Beberapa diantaranya para perwira militer, Sjam dan Biro Chususnya, D.N Aidit dan jajaran pemimpin PKI, juga Soeharto dan rekan-rekan perwiranya.

Untuk memahami isi dan konteks buku secara lebih menyeluruh, dirankan untuk membaca secara seksama buku Dalih Pembunuhan Massal ini.

Comments

Popular posts from this blog

Historiografi Asia Selatan

Ilustrasi Peninggalan Sejarah di India Perkembangan histiografi di Asia selatan dapat dibagi dalam dua periode yakni tradisional dan modern. Pada masa historiografi tradisional sumber-sumber kesusasteraan masih sangat kental. Semisal dengan ada banyaknya cerita cerita epik ataupun kitab kitab yang menceritakan kisah raja raja. Sedangkan dalam historiografi modern lebih mengarah ke India hal ini dikarenakan India merupakan yang paling mengesankan dalam kuantitas atau kualitasnya. Serta india berkembang dengan pesat dibandingkan dengan wilayah lain seperti pakistan, sri lanka atau bangladesh  Historiografi Tradisional Masa sebelum masuknya agama Islam ke India  Kebudayaan pertama di asia selatan adalah kebudayaan mohenjodaro dan harappa. Dari penggalian reruntuhan bekas lokasi kebudayaan ini ditemukan bahwa kebudayaan ini memiliki tingkat kemajuan yang cukup tinggi. Dimana tata kota sudah diatur sedemikian rupa dengan adanya pengaturan kapling rumah, pemand...

Kota Tegal Dalam Sejarah

Raden Dewi Sartika

Potret Raden Ayu Dewi Sartika. source: wikimedia.org Salah satu tokoh yang memiliki peranan penting dalam pergerakan nasional indonesia adalah Dewi Sartika. Bisa dikatakan peran yang dimainkan oleh Dewi Sartika tidak kalah penting dengan Kartini. Meskipun sama sama berjuang membela hak perempuan namun terdapat beberapa perbedaan antara Kartini dan Dewi Sartika. Itulah yang membuat perjuangan Dewi Sartika memiliki makna tersendiri bagi perempuan perempuan Indonesia. Dewi Sartika merupakan salah satu tokoh pelopor dalam hal pendidikan untuk kaum perempuan. Dewi Sartika lahir di Bandung 4 Desember 1884. Orang tua Dewi Sartika adalah salah satu priyayi di tanah sunda, Raden Somanegara dan Nyi Raden raja Permas. Sejak kecil Dewi Sartika sudah mendapatkan pendidikan barat dari asisten residen Cicalengka. Tempat dimana pamannya bupati Martanegara berkedudukan. Tidak hanya belajar, Dewi Sartika sejak kecil juga sudah mulai mengajar teman teman sebayanya segalaa hal yang dia pelajari...