![]() |
| GIE |
Dalam masa peralihan kekuasaan Hok Gie tetap kritis, salah satunya dengan mengkritisi peristiwa pembunuhan anggota PKI di Bali dan Purwodadi tanpa pengadilan terlebih dahulu. Selain itu Hok Gie juga mengkritisi pemerintahan Soeharto yang dinilainya tidak jauh berbeda dengan pemerintahan orde lama di bawah Soekarno. Permasalahan korupsi dan buruknya kinerja pemerintah juga tak luput dari perhatian Hok Gie. Dalam sebuah artikel, Hok Gie mempertanyakan beberapa kasus korupsi juga penyalahgunaan wewenang yang melibatkan pejabat dan petinggi militer. Ia juga mengkritisi perihal kebebasan pers di bawah pemerintahan orde baru.
Hok Gie sempat pergi ke Amerika Serikat selama 3 bulan pada tahun 1968. Kepergiannya ke Amerika Serikat berkaitan dengan program Experiment in International Living yang diadakan Pemerintah Amerika Serikat. Selama di Amerika, Hok Gie banyak belajar tentang kondisi pergerakan mahasiswa pada umumnya di Amerika. Hok Gie juga banyak mengisi seminar yang berkaitan dengan pergerakan mahasiswa di Indonesia. Oleh Hok Gie perjalanan ke Amerika ditulisnya dalam bentuk artikel di berbagai surat kabar.
Hok Gie menyelesaikan kuliahnya di FSUI pada tahun 1969. Dengan gelar Doktorandus, Hok Gie kemudian masuk dalam jajaran dosen FSUI, mengampu mata kuliah pengantar sejarah dan beberapa mata kuliah di Jurusan Sejarah FSUI. Dia tetap sering menulis berbagai permasalahan mulai dari permasalahan bangsa, mengenai kehidupan mahasiswa, bahkan kritik terhadap sesama dosen. Di tengah kesibukan sebagai dosen, Hok Gie tetap memperhatikan perkembangan politik yang terjadi. Hok Gie mengkritisi rekan-rekan mahasiswa yang dulu sama-sama berjuang memperjuangkan tritura yang kemudian masuk dalam jajaran DPR masa pemerintahan Soeharto.
Trivia
Hok Gie menulis artikel di surat kabar Mahasiswa Indonesia edisi pusat bulan Desember 1967 menggunakan nama samanaran “Dewa”. Artikel ini mengangkat tentang pembunuhan kader dan simpatisan PKI di Bali.
Dalam artikel yang ditulisnya berjudul “Betapa Tidak Menariknya Pemerintahan Saat Ini”. Hok Gie membandingkan antara pemerintahan pada era Soekarno dan era Soeharto yang dianggapnya sama saja. Keduanya memiliki rencana besar untuk pembangunan negara, namun tidak kunjung direalisasikan dalam kenyataan.
Program Experiment in International Living memberikan kesempatan bagi mahasiswa dari berbagai negara untuk merasakan kehidupan kemahasiswaan di Amerika Serikat secara langsung dengan ikut aktif dan berdiskusi secara langsung dengan mahasiswa di Amerika Serikat.
Atas permintaan dekan FSUI, sekaligus teman baiknya, Harsya W. Bachtiar, Hok Gie menerima tawaran mengajar di FSUI. Sebelumnya dia sempat memiliki keinginan untuk melanjutkan studi di Amerika Serikat atau Australia. Karena alasan hendak mengabdi kepada almamater, Hok Gie lebih memilih mengajar di Universitas Indonesia.
Dalam sebuah artikel Soe Hok Gie menulis tentang dosen yang sering bolos mengajar, atau dosen yang tidak menguasai materi yang diajarkan, bahkan mengurangi jam mengajar juga mengurangi jumlah pertemuan tatap muka. Soe Hok Gie dalam “Kenang-kenangan bekas mahasiswa: dosen juga perlu dikontrol”

Comments
Post a Comment