Skip to main content

Hok Gie dan Masa Masa Kuliah di UI

GIE
Selepas aktivitas perjuangan tritura, Soe Hok Gie kambali pada aktivitas kuliahnya. Hok Gie sempat menjadi ketua senat mahasiswa FSUI pada tahun 1967, menggantikan Herman Lantang. Bersama kawan-kawannya di FSUI, Hok Gie mulai membangun kembali kehidupan bermahasiswa yang menarik dan bebas dari unsur politik mahasiswa. Hok Gie juga mulai mempersiapkan pengerjaan tugas akhir skripsinya untuk gelar sarjana. Kembali menjalani rutinitas di kampus tidak lantas membuat Hok Gie meninggalkan idealismenya sebagai mahasiswa. 

Dalam masa peralihan kekuasaan Hok Gie tetap kritis, salah satunya dengan mengkritisi peristiwa pembunuhan anggota PKI di Bali dan Purwodadi tanpa pengadilan terlebih dahulu. Selain itu Hok Gie juga mengkritisi pemerintahan Soeharto yang dinilainya tidak jauh berbeda dengan pemerintahan orde lama di bawah Soekarno. Permasalahan korupsi dan buruknya kinerja pemerintah juga tak luput dari perhatian Hok Gie. Dalam sebuah artikel, Hok Gie mempertanyakan beberapa kasus korupsi juga penyalahgunaan wewenang yang melibatkan pejabat dan petinggi militer. Ia juga mengkritisi perihal kebebasan pers di bawah pemerintahan orde baru.

Hok Gie sempat pergi ke Amerika Serikat selama 3 bulan pada tahun 1968. Kepergiannya ke Amerika Serikat berkaitan dengan program Experiment in International Living yang diadakan Pemerintah Amerika Serikat. Selama di Amerika, Hok Gie banyak belajar tentang kondisi pergerakan mahasiswa pada umumnya di Amerika. Hok Gie juga banyak mengisi seminar yang berkaitan dengan pergerakan mahasiswa di Indonesia. Oleh Hok Gie perjalanan ke Amerika ditulisnya dalam bentuk artikel di berbagai surat kabar.

Hok Gie menyelesaikan kuliahnya di FSUI pada tahun 1969. Dengan gelar Doktorandus, Hok Gie kemudian masuk dalam jajaran dosen FSUI, mengampu mata kuliah pengantar sejarah dan beberapa mata kuliah di Jurusan Sejarah FSUI. Dia tetap sering menulis berbagai permasalahan mulai dari permasalahan bangsa, mengenai kehidupan mahasiswa, bahkan kritik terhadap sesama dosen. Di tengah kesibukan sebagai dosen, Hok Gie tetap memperhatikan perkembangan politik yang terjadi. Hok Gie mengkritisi rekan-rekan mahasiswa yang dulu sama-sama berjuang memperjuangkan tritura yang kemudian masuk dalam jajaran DPR masa pemerintahan Soeharto. 

Trivia

Hok Gie menulis artikel di surat kabar Mahasiswa Indonesia edisi pusat bulan Desember 1967 menggunakan nama samanaran “Dewa”. Artikel ini mengangkat tentang pembunuhan kader dan simpatisan PKI di Bali. 

Dalam artikel yang ditulisnya berjudul “Betapa Tidak Menariknya Pemerintahan Saat Ini”. Hok Gie membandingkan antara pemerintahan pada era Soekarno dan era Soeharto yang dianggapnya sama saja. Keduanya memiliki rencana besar untuk pembangunan negara, namun tidak kunjung direalisasikan dalam kenyataan. 

Program Experiment in International Living memberikan kesempatan bagi mahasiswa dari berbagai negara untuk merasakan kehidupan kemahasiswaan di Amerika Serikat secara langsung dengan ikut aktif dan berdiskusi secara langsung dengan mahasiswa di Amerika Serikat. 

Atas permintaan dekan FSUI, sekaligus teman baiknya, Harsya W. Bachtiar, Hok Gie menerima tawaran mengajar di FSUI. Sebelumnya dia sempat memiliki keinginan untuk melanjutkan studi di Amerika Serikat atau Australia. Karena alasan hendak mengabdi kepada almamater, Hok Gie lebih memilih mengajar di Universitas Indonesia.

Dalam sebuah artikel Soe Hok Gie menulis tentang dosen yang sering bolos mengajar, atau dosen yang tidak menguasai materi yang diajarkan, bahkan mengurangi jam mengajar juga mengurangi jumlah pertemuan tatap muka. Soe Hok Gie dalam “Kenang-kenangan bekas mahasiswa: dosen juga perlu dikontrol” 

Comments

Popular posts from this blog

Historiografi Asia Selatan

Ilustrasi Peninggalan Sejarah di India Perkembangan histiografi di Asia selatan dapat dibagi dalam dua periode yakni tradisional dan modern. Pada masa historiografi tradisional sumber-sumber kesusasteraan masih sangat kental. Semisal dengan ada banyaknya cerita cerita epik ataupun kitab kitab yang menceritakan kisah raja raja. Sedangkan dalam historiografi modern lebih mengarah ke India hal ini dikarenakan India merupakan yang paling mengesankan dalam kuantitas atau kualitasnya. Serta india berkembang dengan pesat dibandingkan dengan wilayah lain seperti pakistan, sri lanka atau bangladesh  Historiografi Tradisional Masa sebelum masuknya agama Islam ke India  Kebudayaan pertama di asia selatan adalah kebudayaan mohenjodaro dan harappa. Dari penggalian reruntuhan bekas lokasi kebudayaan ini ditemukan bahwa kebudayaan ini memiliki tingkat kemajuan yang cukup tinggi. Dimana tata kota sudah diatur sedemikian rupa dengan adanya pengaturan kapling rumah, pemand...

Kota Tegal Dalam Sejarah

Raden Dewi Sartika

Potret Raden Ayu Dewi Sartika. source: wikimedia.org Salah satu tokoh yang memiliki peranan penting dalam pergerakan nasional indonesia adalah Dewi Sartika. Bisa dikatakan peran yang dimainkan oleh Dewi Sartika tidak kalah penting dengan Kartini. Meskipun sama sama berjuang membela hak perempuan namun terdapat beberapa perbedaan antara Kartini dan Dewi Sartika. Itulah yang membuat perjuangan Dewi Sartika memiliki makna tersendiri bagi perempuan perempuan Indonesia. Dewi Sartika merupakan salah satu tokoh pelopor dalam hal pendidikan untuk kaum perempuan. Dewi Sartika lahir di Bandung 4 Desember 1884. Orang tua Dewi Sartika adalah salah satu priyayi di tanah sunda, Raden Somanegara dan Nyi Raden raja Permas. Sejak kecil Dewi Sartika sudah mendapatkan pendidikan barat dari asisten residen Cicalengka. Tempat dimana pamannya bupati Martanegara berkedudukan. Tidak hanya belajar, Dewi Sartika sejak kecil juga sudah mulai mengajar teman teman sebayanya segalaa hal yang dia pelajari...