Skip to main content

Batu Pendam

Percayakah kita? Kalau dulunya kita adalah sebuah batu. Sama seperti batuan yang telah lapuk dan menjadi pasir pasir di pantai, serupa pula dengan batu yang masih tegar di puncak gunung. Hingga saat kita ada di atas sana, mungkin kita hanya rindu pada nenek moyang kita. Batu batu yang tetap tegar, melawan gerusan zaman.

Aku mau arogan barang sejenak. Jagalah kelestarian alam, kelestarian hutan, jagalah ekosistem agar bumi ini tak rusak. Jagalah mata air, ranu kumbolo, sumber mani, pos 4 guci, sendang drajat, pet bocor. Agar tak kering bumi ini. Jagalah ia dari asap knalpot, co2, agar burung burung mau terbang tinggi. Aku mau arogan sejenak, seakan kita punya belas kasih yang berlebih pada alam? Lalu bagaimana belas kasih untukku, untukmu, untuk anak cucu kita.

Arogan kamu itu, punya pikiran kalau alam butuh belas kasihan dari kita, supaya kita menjaganya dengan sepenuh hati agar tak rusak.

Bumi dan semesta ini punya detak kehidupan yang jauh lebih awal dan lebih panjang dari kita. Kita pikir bumi tak bisa mencerna sampah plastik yang tak bisa diurai oleh tanah ratusan tahun. Bumi tak mampu mencerna sampah sterofom yang tak bisa dicerna tanah ribuan tahun. Bumi tak mampu mencerna kaleng bekas, kertas, bahan bahan kimia zat beracun, tumpahan minyak, nuklir. 

Bumi memliki kekuatan yang lebih besar dari kita. Ia bisa membersihkan dirinya dari sampah sampah kita. Ratusan bahkan ribuan tahun dari sekarang. Semua sampah sampah itu akan kembali ke asalnya, berkalang tanah.

Yang harus kita kasihani adalah diri kita. Kita tak punya umur seratus, seribu tahun untuk menyaksikan bumi kembali bersih. Bahkan anak cucu kita. Kalau saja bumi mau, ia sudah memuntahkan lahar dari seluruh batu batu bentuk kerucut yang biasa kita naiki itu. Bumi bisa saja menarik semua air laut dan sungai ke dalam perutnya. Bumi bisa saja melepas udara begitu saja ke langit bebas. Kemudian tak ada lagi manusia yang hidup untuk membuang sampah sembarangan, dan tak ada manusia yang arogan lagi.

Karena kita adalah makhluk egois, jangan munafik. Kita melakukan semua hal untuk diri kita. Untuk bertahan hidup. Bukankah kita makhluk yang paling lemah dalam hal bertahan hidup? Kita menjaga kebersihan gunung, kelestarian hutan, pantai adalah untuk kita sendiri. Untuk kita minum dan untuk tempat air agar kita tak basah kebanjiran. Kita menjaga kebersihan tanah adalah untuk keperluan makan kita. Kita menjaga kelestarian flora dan fauna untuk makan kita.

Kalau tak ada seekorpun ayam petelur di dunia ini kau mau makan apa? Kalau ikan sarden sudah punah karena global warming kamu mau makan apa? Kalau kambing dan sapi sudah tak bersisa lagi kau mau makan apa? Kalau tanah sudah tercemar tak bisa ditanami padi lagi kau mau makan apa? Kalau cabai, bawang dan tomat sudah tak bisa tumbuh lagi kau mau nyambel apa?

Jadi intinya, jangan arogan.. sebulan dalam tanah dipendam kita sudah jadi tanah. Seratus tahun dipendam dalam tanah plastik dann sterofom masih akan utuh. Kasian anak cucu kita, kasian kita, jangan kasihani alam, arogan!

Comments

Popular posts from this blog

Historiografi Asia Selatan

Ilustrasi Peninggalan Sejarah di India Perkembangan histiografi di Asia selatan dapat dibagi dalam dua periode yakni tradisional dan modern. Pada masa historiografi tradisional sumber-sumber kesusasteraan masih sangat kental. Semisal dengan ada banyaknya cerita cerita epik ataupun kitab kitab yang menceritakan kisah raja raja. Sedangkan dalam historiografi modern lebih mengarah ke India hal ini dikarenakan India merupakan yang paling mengesankan dalam kuantitas atau kualitasnya. Serta india berkembang dengan pesat dibandingkan dengan wilayah lain seperti pakistan, sri lanka atau bangladesh  Historiografi Tradisional Masa sebelum masuknya agama Islam ke India  Kebudayaan pertama di asia selatan adalah kebudayaan mohenjodaro dan harappa. Dari penggalian reruntuhan bekas lokasi kebudayaan ini ditemukan bahwa kebudayaan ini memiliki tingkat kemajuan yang cukup tinggi. Dimana tata kota sudah diatur sedemikian rupa dengan adanya pengaturan kapling rumah, pemand...

Kota Tegal Dalam Sejarah

Raden Dewi Sartika

Potret Raden Ayu Dewi Sartika. source: wikimedia.org Salah satu tokoh yang memiliki peranan penting dalam pergerakan nasional indonesia adalah Dewi Sartika. Bisa dikatakan peran yang dimainkan oleh Dewi Sartika tidak kalah penting dengan Kartini. Meskipun sama sama berjuang membela hak perempuan namun terdapat beberapa perbedaan antara Kartini dan Dewi Sartika. Itulah yang membuat perjuangan Dewi Sartika memiliki makna tersendiri bagi perempuan perempuan Indonesia. Dewi Sartika merupakan salah satu tokoh pelopor dalam hal pendidikan untuk kaum perempuan. Dewi Sartika lahir di Bandung 4 Desember 1884. Orang tua Dewi Sartika adalah salah satu priyayi di tanah sunda, Raden Somanegara dan Nyi Raden raja Permas. Sejak kecil Dewi Sartika sudah mendapatkan pendidikan barat dari asisten residen Cicalengka. Tempat dimana pamannya bupati Martanegara berkedudukan. Tidak hanya belajar, Dewi Sartika sejak kecil juga sudah mulai mengajar teman teman sebayanya segalaa hal yang dia pelajari...