Skip to main content

Kebijakan Menghadapi Tawuran Pelajar

Ilustrasi Tawuran Pelajar source: tribunnews.com
Dalam sepekan terakhir berita mengenai tawuran yang melibatkan wartawan dan murid murid sebuah sekolah menengah di Jakarta terus mendapat perhatian. Perilaku siswa sma di Jakarta yang anarkis dan kerap tawuran mulai mendapat sorotan publik. Tidak hanya menyoroti perilaku dari siswa, kita juga harus ikut menyoroti kebijakan kebijakan yang diambil pemerintah dalam hal pendidikan yang mungkin berakibat pada kondisi siswa pada umumnya.

Salah satu contoh kebijakan yang cukup kontroversial adalah penggunaan ujian akhir nasional sebagai satu satunya patokan dalam menentukan kelulusan peserta didik. Penggunaan ujian nasional sebagai satu satunya patokan kelulusan mengindikasikan bahwa pendidikan di Indonesia hanya mementingkan aspek kognitif saja. Sedang aspek afektif yang seharusnya lebih diperhatikan justru dikesampingkan.

Penggunaan ujian nasional sebagai patokan bisa membuat siswa tertekan. Karena bigitu banyak pihak yang menuntut dari mereka. Baik orang tua, lingkungan keluarga bahkan lingkungan sekolah tentu mengharapkan yang terbaik. Namun jika kelulusan hanya didasarkan kepada hasil nilai ujian nasional tentu bisa membuat siswa tertekan. Karena belum tentu mata palajaran yang diujikan dalam ujian nasional adalah mata pelajaran yang tidak disukai siswa. Akan lebih adil jika penentuan kelulusan tidak hanya bersumber dari ujian nasional tapi juga bersumber dari sekolah itu sendiri.

Akibatnya bisa dilihat dari kondisi siswa siswa saat ini. Orientasi belajar siswa hanya untuk mendapatkan nilai yang baik saja. Sedangkan aspek afektif dilupakan begitu saja. Itulah mengapa dari waktu ke waktu tawuran antar pelajar selalu terjadi. Karena aspek afektif siswa tidak tersentuh pendidikan kita. Siswa siswa menjadi agresif, tidak bisa berperilaku sopan satun.

Hal tersebut diperparah oleh kurangnya perhatian pendidik terhadap kondisi kejiwaan siswanya. Besar kemungkinan tekanan yang begitu keras didapat siswa dari sekolah membuat siswa lebih temperamental, emosional dan akhirnya hobi yawuran. Lagipula tindakan yang dilakukan sekolah terhadap tawuran yang marak terjadi hanyalah tindakan preventif, tidak menyentuh tindakan persuasive.

Seharusnya pemerintah membuat kebijakan pendidikan yang baik bagi semua unsur dalam pendidikan. Baik bagi instansi pendidikan terkait, bagi guru dan tenaga pengajar lainnya dan yang terpenting bagi siswa siswa sebagai generasi muda penerus bangsa. Sebagai calon pengganti kita di masa depan, sudah seharusnya kita mempersiapkan mereka sebaik mungkin. Tidak hanya dalam unsure kognitif saja tapi juga dalam hal keterampilan serta kepribadian yang baik.

Dengan seimbangnya aspek kognitif, psikomotor dan afektif sudah pasti akan menjadikan pendidikan kita lebih bermutu. Siswa siswa kita tidak hanya pintar teori tapi juga pintar dalam hal praktek serta mulia dalam hal akhlaknya.

Comments

Popular posts from this blog

Historiografi Asia Selatan

Ilustrasi Peninggalan Sejarah di India Perkembangan histiografi di Asia selatan dapat dibagi dalam dua periode yakni tradisional dan modern. Pada masa historiografi tradisional sumber-sumber kesusasteraan masih sangat kental. Semisal dengan ada banyaknya cerita cerita epik ataupun kitab kitab yang menceritakan kisah raja raja. Sedangkan dalam historiografi modern lebih mengarah ke India hal ini dikarenakan India merupakan yang paling mengesankan dalam kuantitas atau kualitasnya. Serta india berkembang dengan pesat dibandingkan dengan wilayah lain seperti pakistan, sri lanka atau bangladesh  Historiografi Tradisional Masa sebelum masuknya agama Islam ke India  Kebudayaan pertama di asia selatan adalah kebudayaan mohenjodaro dan harappa. Dari penggalian reruntuhan bekas lokasi kebudayaan ini ditemukan bahwa kebudayaan ini memiliki tingkat kemajuan yang cukup tinggi. Dimana tata kota sudah diatur sedemikian rupa dengan adanya pengaturan kapling rumah, pemand...

Kota Tegal Dalam Sejarah

Raden Dewi Sartika

Potret Raden Ayu Dewi Sartika. source: wikimedia.org Salah satu tokoh yang memiliki peranan penting dalam pergerakan nasional indonesia adalah Dewi Sartika. Bisa dikatakan peran yang dimainkan oleh Dewi Sartika tidak kalah penting dengan Kartini. Meskipun sama sama berjuang membela hak perempuan namun terdapat beberapa perbedaan antara Kartini dan Dewi Sartika. Itulah yang membuat perjuangan Dewi Sartika memiliki makna tersendiri bagi perempuan perempuan Indonesia. Dewi Sartika merupakan salah satu tokoh pelopor dalam hal pendidikan untuk kaum perempuan. Dewi Sartika lahir di Bandung 4 Desember 1884. Orang tua Dewi Sartika adalah salah satu priyayi di tanah sunda, Raden Somanegara dan Nyi Raden raja Permas. Sejak kecil Dewi Sartika sudah mendapatkan pendidikan barat dari asisten residen Cicalengka. Tempat dimana pamannya bupati Martanegara berkedudukan. Tidak hanya belajar, Dewi Sartika sejak kecil juga sudah mulai mengajar teman teman sebayanya segalaa hal yang dia pelajari...