![]() |
| Ilustrasi Tawuran Pelajar source: tribunnews.com |
Salah satu contoh kebijakan yang cukup kontroversial adalah penggunaan ujian akhir nasional sebagai satu satunya patokan dalam menentukan kelulusan peserta didik. Penggunaan ujian nasional sebagai satu satunya patokan kelulusan mengindikasikan bahwa pendidikan di Indonesia hanya mementingkan aspek kognitif saja. Sedang aspek afektif yang seharusnya lebih diperhatikan justru dikesampingkan.
Penggunaan ujian nasional sebagai patokan bisa membuat siswa tertekan. Karena bigitu banyak pihak yang menuntut dari mereka. Baik orang tua, lingkungan keluarga bahkan lingkungan sekolah tentu mengharapkan yang terbaik. Namun jika kelulusan hanya didasarkan kepada hasil nilai ujian nasional tentu bisa membuat siswa tertekan. Karena belum tentu mata palajaran yang diujikan dalam ujian nasional adalah mata pelajaran yang tidak disukai siswa. Akan lebih adil jika penentuan kelulusan tidak hanya bersumber dari ujian nasional tapi juga bersumber dari sekolah itu sendiri.
Akibatnya bisa dilihat dari kondisi siswa siswa saat ini. Orientasi belajar siswa hanya untuk mendapatkan nilai yang baik saja. Sedangkan aspek afektif dilupakan begitu saja. Itulah mengapa dari waktu ke waktu tawuran antar pelajar selalu terjadi. Karena aspek afektif siswa tidak tersentuh pendidikan kita. Siswa siswa menjadi agresif, tidak bisa berperilaku sopan satun.
Hal tersebut diperparah oleh kurangnya perhatian pendidik terhadap kondisi kejiwaan siswanya. Besar kemungkinan tekanan yang begitu keras didapat siswa dari sekolah membuat siswa lebih temperamental, emosional dan akhirnya hobi yawuran. Lagipula tindakan yang dilakukan sekolah terhadap tawuran yang marak terjadi hanyalah tindakan preventif, tidak menyentuh tindakan persuasive.
Seharusnya pemerintah membuat kebijakan pendidikan yang baik bagi semua unsur dalam pendidikan. Baik bagi instansi pendidikan terkait, bagi guru dan tenaga pengajar lainnya dan yang terpenting bagi siswa siswa sebagai generasi muda penerus bangsa. Sebagai calon pengganti kita di masa depan, sudah seharusnya kita mempersiapkan mereka sebaik mungkin. Tidak hanya dalam unsure kognitif saja tapi juga dalam hal keterampilan serta kepribadian yang baik.
Dengan seimbangnya aspek kognitif, psikomotor dan afektif sudah pasti akan menjadikan pendidikan kita lebih bermutu. Siswa siswa kita tidak hanya pintar teori tapi juga pintar dalam hal praktek serta mulia dalam hal akhlaknya.

Comments
Post a Comment