Skip to main content

Raden Ajeng Kartini (1)

Ilustrasi Kartini. source: Eportu pegipegi.com
Sejarah mencatat tentang salah satu pahlawan indonesia yang berjuang membawa kaumnya menuju kemuliaan. Dialah Kartini, putri Jepara yang cerdas yang memilki kesadaran untuk berjuang agar kaumnya memperoleh kedudukan yang layak dalam kehidupan. Pada masanya, perempuan hidup dibatasi oleh adat istiadat. Segala perilakunya dibatasi adat istiadat feodal. Tidak boleh sekolah, dan saat beranjak dewasa dipingit dan dijodohkan. Kartini merupakan pendobrak tradisi, berjuang memperjuangkan nasib perempuan agar tidak hanya menyerah pada kungkungan tradisi.

Kartini lahir pada tanggal 21 Mei 1879 di Majong, kadipaten Jepara dengan nama Raden Ajeng Kartini. Kartini lahir dengan keturunan ningrat dari ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat yang merupakan bupati Jepara. Sedangkan ibunya M.A Ngasirah mewarisi darah pesantrenn dari Kyai Haji Madirono seorang guru agama di Teluwakur Jepara. Ibu kandung Kartini bukanlah istri utama dari Sosroningrat, melainkan hanya selir. Garwa padmi atau istri utama dari Sosroningrat adalah Raden Ayu Muryam yang masih keturunan raja raja Madura. Sejak kecil Kartini hidup bersama ibu dan saudara-saudara tirinya.

Kartini merupakan anak kelima dari sebelas bersaudara. Kakak tertuanya adalah R.M Sosroningrat, R.M Sosrobusono, R.A Tjokroadisosro dan Drs R.M Sosrokartono. Sedang adik adiknya adalah R.A Rukmini yang kemudian menjadi istri bupati Kudus, R.A Kardinah yang kemudian menjadi istri bupati Tegal, R.A Kartinah, R.M Sosromuljono, R.A Sumantri dan R.M Sosrosawito. Namun diantara saudara saudaranya itu Kartini hanya dekat dengan R.A Kardinah dan R.A Rukmini. Selain itu, dengan kakak perempuan tertuanya ia juga dekat. Sedang dari kakak laki lakinya hanya Sosrokartono yang memperlihatkan perhatian lebih pada Kartini.

Kartini hidup di rumah dinas bupati Jepara yang ditinggali ayahnya dan seluruh keluarganya. Ayah Kartini merupakan sosok yang modern. Dia tidak segan memasukkan anak anaknya ke sekolah Belanda termasuk Kartini. pada mulanya Kartini bersekolah di ELS Europose Lagere School. Sekolah elite Belanda yang hanya bisa dimasuki oleh kaum elite Belanda serta kaum elite pribumi. Hanya sampai usia 12 tahun Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS. Kartini keluar dari sekolah pada umur 12 tahun karena harus menjalani pingitan. Pingitan adalah mengurung anak gadis yang beranjak remaja di rumah. Dia tidak diperbolehkan keluar sampai ada yang meminangnya.

Dalam masa pingitan Kartini tidak terlalu banyak bergaul dengan lingkungannya. Ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca buku. Walaupun dalam pingitan, semangatnya untuk tetap belajar masih sangat besar. Ia begitu banyak membaca buku baik buku Belanda maupun buku Indonesia. Diantara yang menarik hatinya adalah tulisan Multatuli yang berjudul Max Havelaar. Kebiasaan membaca inilah yang memunculkan tekatnya untuk kembali meneruskan sekolah. Meskipun masih dipingit Kartini tetap menunjukkan tekad yang kuat dalam niatannya untuk meneruskan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Bahakan dalam cita citanya Kartini ingin bersekolah sampai ke Belanda.

Pada umur 16 tahun Kartini dilepaskan dari pingitannya. Kartini masih berusaha untuk melanjutkan sekolahnya. Dia mengajukan beasiswa untuk sekolah di Belanda kepada pemerintah kolonial Belanda. Disaat itulah datang sosok mister J.H Abendanon ke Jepara. J.H Abendanon merupakan Directeur departement Onderwijs eredienst en nijverheid. Semacam menteri yang mengurusi masalah pendidikan ibadat dan kerajinan. Datangnya Abendanon tak lain adalah hubungannya dengan pelaksanaan politik etis yang diterapkan pemerintah kolonial Belanda di Indonesia. Abendanon datang ke Jepara untuk sebuah kesepakatan dengan bupati Jepara saat itu. Abendanon menginap sekitar dua hari di rumah bupati Jepara. 

Datangnya Abendanon membawa angin segar pada Kartini. Kartini mulai bershabat dengan istri Abendanon yang bernama Rosa. Dari keluarga Belanda inilah Kartini mendapatkan banyak pelajaran mengenai kehidupan barat. Baik itu pemikiran pemikirannya serta tradisi tradis di barat. Kartini semakin bersemangat untuk bisa bersekolah di Belanda. Melalui Abendanon dia menitipkan surat permohonan beasiswa kepada pemerintah kolonial Belanda. Harapannya dari abondenan bisa mengusahakan agar permohonan beasiswanya bisa dikabulkan. Mengingat Abondenan memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam tatanan pemerintahan kolonial. Lagipula kedudukan nya dalam departemen kementrian pendidikan pastinya akan menjadi nilai lebih.

Selepas dari pingitannya, Kartini mendirikan sekolah di rumahnya yang memberikan pengajaran kepada perempuan perempuan pribumi. Dalam mengajar dia dibantu oleh dua adiknya Rukmini dan Kardinah. Kegiatan pengajaran dilakukan di pendopo rumahnya. Meskipun sangat sederhan, Kartini merasa sangat senang bisa memberikan pengajaran kepada perempuan perempuan pribumi lainnya yang tidak mungkin bisa masuk sekolah Belanda. Bersama adik adiknya Kartini megejar cita citanya untuk memperjuangkan nasib kaumnya ke arah yang lebih baik. Usaha Kartini ini sangat disambut baik oleh kaum perempuan di Jepara.

Kartini mulai mencurahkan isi hatinya kepada nyonya Abendanon dan beberapa temannya dari Belanda. Melalui surat Kartini menceritakan tentang dirinya dan keluarganya serta penderitaan yang dialami oleh kaumnya. Nyonya Abendanon sangat menyambut baik surat surat Kartini. bahkan dia memperkenalkan Kartini kepada kawan kawannya dari negeri Belanda. Lambat laun surat Kartini seperti menjadi surat wajib yang selalu dikirim kepada nyonya Abendanon dan teman temannya.

Tahun 1902 adik Kartini yakni Kardinah menikah dengan R.M Reksonegoro yang merupakan bupati Tegal. Lalu menyusul Rukmini dipinang R.M Santoso bupati Kudus. Hal tersebut mematahkan semangat Kartini untuk mengejar cita citanya untuk bersekolah lebih tinggi. Ditambah lagi ayahandanya muli sakit sakitan. Kartini berada pada dilema dimana dia harus memilih antara cita citanya atau ketenraman keluarganya. 

Tahun 1903 Kartini mendapat lamaran dari R.M Djojo Hadiningrat. Buptati Rembang. Awalnya Kartini bersikeras menolaknya karena masih memikirkan untuk bersekolah ke Belanda. Namun setelah mempertimbangkan ayahandanya yang sakit Kartini akhirnya mengorbankan cita citanya. Kartini menikah pada 8 november 1903, dengan pertimbangan demi ayahnya yang sedang sakit. Lagipula di Rembang Kartini dijanjikan masih bisa tetap mengajar perempuan perempuan pribumni dengan mengadakan sekolah di Rembang. 

Tak lama berselang Kartini akhirnya hamil. Kemudian melahirkan anak pertama yang diberi nama R.M Soesalit. Namun 4 hari setelah persalinan terjadi komplikasi pasca melahirkan. Kartini akhirnya meninggal pada 17 september 1904. Kartini dimakamkan di Rembang mengikuti makam makam adipati Rembang.

Comments

Popular posts from this blog

Historiografi Asia Selatan

Ilustrasi Peninggalan Sejarah di India Perkembangan histiografi di Asia selatan dapat dibagi dalam dua periode yakni tradisional dan modern. Pada masa historiografi tradisional sumber-sumber kesusasteraan masih sangat kental. Semisal dengan ada banyaknya cerita cerita epik ataupun kitab kitab yang menceritakan kisah raja raja. Sedangkan dalam historiografi modern lebih mengarah ke India hal ini dikarenakan India merupakan yang paling mengesankan dalam kuantitas atau kualitasnya. Serta india berkembang dengan pesat dibandingkan dengan wilayah lain seperti pakistan, sri lanka atau bangladesh  Historiografi Tradisional Masa sebelum masuknya agama Islam ke India  Kebudayaan pertama di asia selatan adalah kebudayaan mohenjodaro dan harappa. Dari penggalian reruntuhan bekas lokasi kebudayaan ini ditemukan bahwa kebudayaan ini memiliki tingkat kemajuan yang cukup tinggi. Dimana tata kota sudah diatur sedemikian rupa dengan adanya pengaturan kapling rumah, pemand...

Kota Tegal Dalam Sejarah

Raden Dewi Sartika

Potret Raden Ayu Dewi Sartika. source: wikimedia.org Salah satu tokoh yang memiliki peranan penting dalam pergerakan nasional indonesia adalah Dewi Sartika. Bisa dikatakan peran yang dimainkan oleh Dewi Sartika tidak kalah penting dengan Kartini. Meskipun sama sama berjuang membela hak perempuan namun terdapat beberapa perbedaan antara Kartini dan Dewi Sartika. Itulah yang membuat perjuangan Dewi Sartika memiliki makna tersendiri bagi perempuan perempuan Indonesia. Dewi Sartika merupakan salah satu tokoh pelopor dalam hal pendidikan untuk kaum perempuan. Dewi Sartika lahir di Bandung 4 Desember 1884. Orang tua Dewi Sartika adalah salah satu priyayi di tanah sunda, Raden Somanegara dan Nyi Raden raja Permas. Sejak kecil Dewi Sartika sudah mendapatkan pendidikan barat dari asisten residen Cicalengka. Tempat dimana pamannya bupati Martanegara berkedudukan. Tidak hanya belajar, Dewi Sartika sejak kecil juga sudah mulai mengajar teman teman sebayanya segalaa hal yang dia pelajari...