Buku Memilih Aksaranya Sendiri pict pexels.com Muammar Memilih Jalan Sendiri (Cerpen Kompas, 14 Oktober 2012) Oleh Sori Siregar Malam telah merangkak jauh. Perlahan. Sebentar lagi pagi terjangkau. Hujan rintik-rintik di luar. Maludin yang letih masih tidak dapat tidur. Sepanjang malam menjelang pagi itu ia tetap terjaga. Resiko seperti ini tidak pernah terbayangkannya dua puluh tahun lalu. Ia, istrinya, Maryam, dan putranya, Muammar, datang ke negeri yang jauh ini untuk memulai kontrak kerjanya dengan sebuah lembaga pemerintah. Ketika itu Muammar baru berusia dua tahun. Adiknya, Fatur, lahir di negeri yang jauh ini dua tahun kemudian, disusul oleh Fayed dua tahun setelah itu. Bagi Maludin hidup di negeri baru ini jauh lebih menyenangkan daripada di kota yang ditinggalkannya. Bukan saja karena pendapatannya lebih besar daripada yang dulu diperolehnya sebagai guru SMA di kotanya, tetapi juga karena ia berdomisili di lingkungan permukiman yang lebih baik, tidak sumpek dan b...